Welcome

Artikel di blog ini dibuat atas dasar hobi. Jika kalian menemukan manfaat dari blog ini, anggap saja itu kebetulan. Tak perlu mengucapkan terima kasih.

Dari Hati Seorang Lelaki (Bagian 5)

Selama hampir dua minggu, Triaz harus di rawat di rumah sakit. Luka yang ada di kepalanya lumayan serius. Benturan yang dialami Triaz untunglah tidak sampai membuatnya gegar otak atau pecah pembuluh darah di bagian kepala. Semua masih dilindungi. Hanya luka sobekan biasa yang Triaz terima.
Dan selama dua minggu di rumah sakit, Elsa sebagai istrinya sekalipun tidak melihat keadaan Triaz bagaimana. Sekedar merasa khawatir atau kasihan, dia tidak merasakannya. Bahkan ketika Ibunya Triaz menginformasikannya kepada Elsa, tanggapan Elsa biasa-biasa saja. Tidak merasa kaget atau sedih. Sungguh, Ibunya Triaz sangat kecewa dengan sikap menantunya itu. Suaminya dalam keadaan sakit, namun tak sedikitpun Elsa peduli atau merasa simpatik.

Dan selama dua minggu itu pula, Elsa tidak pernah menghubungi Triaz. Sekedar untuk menanyakan bagaimana keadaan Triaz pun tidak pernah. Elsa malah sibuk untuk bertemu dengan Sandy yang sudah jelas-jelas pelaku dari kejadian ini. Bahkan ketika Bu Rani menyarankan Elsa untuk menjenguk Triaz di rumah sakit, dengan entengnya Elsa menjawab bahwa itu bukan urusannya dia. Karena Elsa merasa sudah tidak menjadi istrinya Triaz lagi. Bu Rani hanya bisa mengurut dada saja atas sikap putrinya itu. Dalam keadaan sedang terluka seperti itu pun, Elsa benar-benar tidak peduli. Bu Rani dan Elsa sampai bertengkar hebat gara-gara masalah ini. Masing-masing punya argumen sendiri.

"Kamu benar-benar keterlaluan, Sa! Suami kamu sedang terluka parah di rumah sakit, tapi kamu malah sibuk untuk menemui Sandy. Istri macam apa kamu ini?"

"Aku tidak pernah mencintai Mas Triaz, ma. Aku mau cerai dari dia."

"Dengar Elsa, Mama tidak akan pernah menyetujui hubungan kamu dengan Sandy. Sampai kapanpun Mama tidak akan menerima dia sebagai menantu. Kamu harus ingat itu Elsa."

"Terserah Mama. Aku tidak peduli!"

Sebagai seorang lelaki, tentunya Triaz merasa sedih karena Elsa tidak sekalipun mengunjunginya di rumah sakit. Tapi tidak apa-apa. Triaz tidak akan pernah menyerah. Dia akan tetap mencintai Elsa. Dan dia akan tetap menunggu Elsa sampai berubah, walaupun hal itu sangat sulit terjadi. Dan tadinya juga, Triaz ingin memperkarakan ini ke kepolisian. Dia ingin melaporkan Sandy atas tuduhan penganiayaan. Namun Triaz berpikir ulang lagi. Kasihan Sandy. Meskipun laki-laki itu telah mencelakakannya, namun Triaz memikirkan nasib Shiha dan perempuan yang bernama Wenny yang akan dinikahi oleh Sandy. Triaz memikirkan hal itu. Bagaimana jadinya bila Triaz memperkarakan semua ini. Jujur... rasa belas kasihnya tiba-tiba saja muncul. Dia lebih memikirkan Shiha dan Wenny para perempuan itu. Triaz tidak ingin mereka berduka dan bersedih bila Sandy sampai harus berurusan dengan polisi. Biarlah semua itu Triaz menerimanya sebagai ujian dan kasih sayang dari Yang Maha Kuasa.

Andrian pun sempat menyarankan kepada Triaz untuk melaporkan Sandy ke polisi. Namun Triaz masih punya hati dan perasaan. Dia tidak mau memperpanjang masalah ini. Biarlah Allah yang menindak Sandy, bukan Triaz atau pihak kepolisian. Tentunya Allah lebih tahu, hukuman apa yang pantas untuk Sandy. Sungguh, Andrian sangat menyayangkan sikap Triaz yang terlalu baik itu. Seharusnya Triaz membalas dendam dan membuat perhitungan dengan Sandy. Tapi ya sudahlah, Triaz adalah Triaz. Sikapnya memang sudah seperti itu.

Triaz melangkah tertatih di stasiun Jakarta Kota. Balutan perban putih masih melingkar di kepalanya. Andrian setia menemaninya sedari tadi. Seharusnya Triaz belum boleh pulang dari rumah sakit. Menurut jadwal, Triaz baru bisa pulang esok hari. Namun karena Triaz sudah tidak betah, akhirnya dia keluar hari ini. Dan KRL Commuterline adalah transportasi yang dipilihnya untuk pulang ke rumah. Wajah Triaz masih bersemu pucat dan belum segar betul. Syukurlah ada Andrian, sahabat baiknya.

"Iaz... yakin nggak mau naik taksi saja?" Tanya Andrian merasa sedikit khawatir.

"Nggak usah, Dri. Nanti di stasiun Bekasi saja. Gue masih kuat."

"Elsa itu benar-benar keterlaluan ya. Selama di rumah sakit, satu kalipun dia tidak pernah datang menjenguk lo. Gila tuh ya cewek. Gue nggak habis pikir.."

"Gue udah tahu Elsa seperti itu, Dri. Gue harus berusaha untuk memaklumkinya."

"Nggak bisa gitu lah.. Elo kan masih suaminya. Sebagai istri, harusnya dia dong yang ngerawat suaminya. Gue kesel jadinya. Elo sih, kelewat baik jadi orang."

"Mungkin gue yang terlalu sayang dan cinta sama Elsa."

"Yahhh... Elo mulai kumat lagi melownya."

"Gue yakin, Dri. Keadaannya tidak akan seperti ini terus. Allah masih sayang sama gue. Dan gue... harus tetap belajar ikhlas dan sabar."

"Triaz... Triaz... terserah elo deh."


KRL Commuterline tujuan Bekasi baru saja parkir dengan manis di jalur sebelas. Beberapa penumpang yang turun nampak berhamburan dari setiap pintu kereta. Setelah keadaan kereta mulai normal dan kosong, Triaz dan Andrian mulai masuk ke dalam rangkaian kereta. Mereka segera mencari tempat duduk yang mereka inginkan. Baru saja beberapa saat duduk, dari koridor belakang muncul Bu Rani dengan kepala celingak-celinguk seperti sedang mencari seseorang. Dan hal itu diketahui oleh Andrian yang tidak sengaja sedang menoleh ke koridor belakang.

"Iaz... Itu mertua lo." Ucap Andrian sambil mengarahkan pandangannya ke arah Bu Rani yang semakin lama semakin mendekat. Triaz mengikuti arah pandang sahabatnya itu.

"Oh iya. Mama!" Triaz langsung berteriak setelah melihat Ibu mertuanya itu melintas di hadapannya. Dan yang dipanggil langsung menoleh.

"Triaz. Astagfirullah..Triaz. Mama tadi ke rumah sakit untuk menjenguk kamu. Tapi suster bilang... kamu sudah pulang. Kamu kan belum sembuh benar. Kenapa pulang cepat?"

"Percuma, ma."

"Percuma gimana maksud kamu?"

"Dirawat sampai sebulan pun, Elsa tidak akan pernah menjenguk Triaz di rumah sakit, ma. Jadi untuk apa Triaz hidup, kalau istri Triaz sendiri tidak pernah merasa kasihan sama Triaz.. Mama tentunya bisa merasakan apa yang Triaz rasakan. Lelaki pun punya hati, ma. Punya perasaan dan rasa ingin diperhatikan. Tapi..."

Triaz tak bisa meneruskan ucapannya. Kesedihannya tak bisa dibendung lagi. Bu Rani yang mendengarkan itu, ikut bersedih dan terhenyuh hatinya.

"Mama malu sama kamu, Triaz. Mama nggak tau gimana caranya untuk menyadarkan Elsa. Mama....." Ucapan Bu Rani terputus begitu saja. Dia tak sanggup lagi untuk meneruskannya. Dia hanya bisa menundukkan wajahnya. Rasa malu yang sedang dirasakannya sudah tak terbendung lagi. Triaz yang melihat ibu mertuanya seperti itu merasa sedih dan kasihan. Dan perlahan, Triaz mengangkat wajah Bu Rani dengan rasa haru.

"Mama... yang penting, mama tidak pernah berhenti berdoa untuk Triaz dan Elsa. Doakan selalu yang terbaik untuk kami, agar kami selalu baik-baik saja, dan bisa sampai selamanya. Doa seorang Ibu itu sangat mustajab."

"Mama sekarang pasrah. Andaikan kamu mau menceraikan Elsa, Mama terima. Walaupun..."

"Mama tidak boleh bicara seperti itu. Triaz tidak pernah ada niat untuk menceraikan Elsa, tidak akan, ma. Triaz akan kuat. Sebesar apapun badai yang akan menghempas, Triaz harus tangguh. Seberat apapun gelombang masalah yang menikam, Triaz akan tetap berdiri. Karena Triaz sangat mencintai putri Mama. Dan selamanya akan terus seperti itu."

Bu Rani terpukau dengan ucapan Triaz. Hatinya seakan meleleh dengan kebaikan hatinya. Bu Rani malu kepada dirinya sendiri, terlebih kepada Triaz. Dan perlahan Bu Rani menatap menantu yang sangat disayanginya itu dengan penuh cinta dan kasih sayang.

"Kamu terlalu baik untuk Elsa. Kamu tidak pantas diperlakukan seperti ini. Mama tidak tega melihat kamu. Maafkan Elsa. Maafkan anak Mama."

Triaz tidak mau menjawab ucapan Bu Rani. Justru di saat-saat seperti ini, dia tidak boleh membuat Bu Rani semakin tertekan. Dia harus memberikan rasa nyaman dan bahagia untuk Bu Rani. Hingga perlahan, Triaz memeluk ibu mertuanya itu dengan erat. Andrian yang melihat sedari tadi di samping tempat duduk Triaz, hanya bisa menatapnya dengan rasa haru dan bercak air mata yang mulai mengintip malu-malu.

"Cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang kuat. Cinta yang sejati adalah cinta yang tahan dengan badai dan gelombang sebesar apapun. Dan cinta yang sejati adalah cinta yang mampu dan sabar menerima segala kelemahan pasangannya masing-masing. Karena cinta dilahirkan bukan untuk dipermainkan, tapi untuk dipertahankan hingga sang maut menjemput nanti. Dan cinta Triaz untuk Elsa, adalah seperti itu. Mama harus percaya, bahwa Triaz sepenuhnya milik Elsa. Sepenuhnya akan selalu ada untuk Elsa. Kemarin... saat ini dan selamanya."

Sungguh, Bu Rani tak kuat menahan rasa haru dan bangganya. Di mata Bu Rani, Triaz benar-benar dahsyat. Triaz adalah sosok laki-laki sekaligus suami idaman semua perempuan. Hanya saja, Elsa belum terbuka mata hatinya. Elsa lebih mengedepankan egoismenya saja. Dalam pelukan Triaz, Bu Rani meneteskan air matanya. Dia benar-benar terharu. Tidak sia-sia dia memiliki menantu seperti Triaz. Orangnya begitu kuat, begitu tegar.

***

Keesokan harinya saat jam pulang kerja, KRL Commuterline tujuan Bekasi tertahan sinyal masuk stasiun Manggarai. Sudah hampir lima belas menit kereta terdiam. Namun Triaz tetap menunggu dengan sabar. Dalam kesempatan itu, Triaz mempergunakan waktunya untuk membaca. Di saat penumpang yang lain kelelahan karena menunggu, di saat yang lain menggerutu dan bersungut-sungut, dia asyik membaca di tempatnya duduk. Sementara di luar hari mulai gelap. Sepertinya waktu salat Isya sudah tiba. Namun konsentrasi membaca Triaz agak terusik mendengar sebuah obrolan di samping kirinya duduk. Obrolan seorang perempuan dan laki-laki yang cukup berisik dan mengganggunya.

Saat naik di stasiun Jakarta Kota tadi, Triaz tidak memperhatikan keadaan sekitar. Siapa saja penumpang yang masuk ke dalam rangkaian kereta dan di stasiun apa saja. Triaz kalau sudah serius membaca, dia suka lupa keadaan sekitar. Termasuk kepada para penumpang yang ada di sekitarnya. Obrolan itu cukup mengganggunya. Triaz segera menghentikan aktivitas membacanya sesaat. Dia melihat ke atas dan...

"Astagfirullahaladzim..." Triaz bak disengat ribuan lebah, dia sangat kaget dan terkejut bukan main. Jantungnya seperti hendak berhenti berdetak.

"Elsa... Sandy. Ya Allah... cobaan apalagi ini." Triaz berbicara sendiri di dalam hatinya. Ya, yang sedang mengobrol di samping kirinya adalah Elsa dan Sandy. Mereka berdiri di dekat pintu. Untung saja Triaz dalam keadaan memakai masker. Jadi wajahnya tidak terlalu dikenali.

***

Di sebelah kursi prioritas, Triaz berusaha untuk menahan diri dan emosinya. Untuk saat ini dia harus bisa mengendalikan sikapnya. Apalagi saat ini kereta yang dinaikinya masih tertahan di stasiun Juanda karena antrian sinyal menuju stasiun Gambir. Di dalam hatinya Triaz perang keputusan. Apa sebaiknya yang harus dia lakukan. Berdiam diri saja agar semuanya aman, atau melabrak Elsa secara terang-terangan di muka umum seperti itu. Entahlah, mungkin semua ini sudah takdir dari Yang Maha Kuasa. Triaz akhirnya diberikan bukti dan kenyataan tentang kelakuan Elsa istrinya selama tidak di sampingnya. Triaz hanya bisa mengurut dadanya saja. Adegan yang sedang Triaz lihat antara Elsa dan Sandy sangat intim dan dekat sekali. Elsa nampak asyik dan nyaman di pelukan Sandy.

Rasanya Triaz tidak bisa membiarkan kejadian ini terus terjadi. Bagaimanapun semua ini harus segera dihentikan. Elsa tidak boleh berdekatan dengan laki-laki lain selain dirinya. Namun tentunya, cara Triaz untuk menghentikan kelakuan istrinya itu harus dengan cara yang high class, jangan sampai menggunakan cara yang urakan dan kampungan. Di keramaian transportasi seperti ini, segala sesuatunya harus diperhitungkan dan dipikirkan.

"Aku pasti akan segera menikahimu, Elsa. Aku juga sudah siap menjadi ayah yang terbaik untuk Namra. Kamu yang sabar ya."

"Aku sudah nggak sabar menunggu waktunya, San."

"Aku akan segera bicara dengan Mas Triazmu itu untuk segera menceraikan kamu. Dia harus tahu dan nyadar, bahwa kamu tidak pernah mencintai dia dan Namra bukanlah darah dagingnya. Akulah yang berhak atas kamu dan Namra, bukan dia."

"Tapi dia tidak akan pernah menceraikan aku katanya. Aku bingung, San."

"Kamu nggak usah khawatir, biarkan itu yang menjadi urusan aku."

"Oke. Mudah-mudahan Mas Triaz bisa luluh ya."

Sungguh, percakapan antara Sandy dan Elsa membuat Triaz yang masih duduk di tempatnya, merasa sangat sakit hati, marah dan juga terluka. Sangat jelas terdengar dan sudah sangat keterlaluan. Ya. Ini sudah tidak bisa dibiarkan lagi. Triaz harus segera mengakhiri semua itu.

"Maaf... rencana Pak Sandy itu tidak akan pernah berhasil sampai kapanpun." Triaz berdiri dari tempat duduknya dan kemudian menghampiri Elsa dan Sandy yang terlihat sangat terkejut ketika melihat siapa yang ada di hadapan mereka, apalagi setelah Triaz membuka masker yang dipakainya. Baik Elsa ataupun Sandy lebih terkejut lagi. Tidak menyangka kalau Triaz ada di kereta yang sama dengan mereka berdua.

"Triaz?"

"Mas Triaz..."

Elsa dan Sandy bersamaan menyebutkan nama Triaz. Keduanya tampak salah tingkah dan langsung merenggangkan pelukan mereka. Dalam keadaan seperti itu, Triaz berusaha untuk tetap tenang dan tidak tersulut emosinya. Karena dia sadar kalau saat ini dia sedang berada di keramaian.

"Pak Sandy, bisa kita bicara sebentar, Pak?" Padahal saat itu, Sandy hampir merenggut nyawanya, namun Triaz memanggil Sandy dengan hormat dan sopan dengan sebutan "Pak".

"Apa?" Dalam keadaan kikuk seperti itu, Sandy masih sempat-sempatnya memasang wajah jutek. Sementara dengan Elsa, dia hanya merapatkan tubuhnya ke tiang sandaran. Elsa khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi antara Sandy dan Triaz.

"Bagaimana kalau kita bicara di luar saja? Kebetulan keretanya masih tertahan."

"Apa hak Anda menyuruh-nyuruh saya?"

"Pak Sandy jangan takut. Ini tidak seperti yang Pak Sandy bayangkan. Kalau Pak Sandy merasa sebagai laki-laki gentleman dan bukan pengecut, sebaiknya kita bicara di luar."

"Sudahlah Sandy, kita ikuti kemauan Mas Triaz."

"Baiklah. Siapa takut."

***

Di ujung peron arah selatan stasiun Juanda, Elsa, Triaz dan Sandy saling bertemu satu sama lain. Mereka sengaja memilih agak ke ujung peron agar tidak terlalu dilihat dan di dengar oleh para penumpang yang sedang menunggu kereta. Terlihat Elsa masih merasakan gugup dan salah tingkah karena telah tertangkap basah sedang berduaan dengan Sandy. Sungguh, Elsa merasa sangat malu. Langit di atas sana nampak gelap. Gemerlap kota Jakarta sangat meriah dari kejauhan sana.

"Sekarang katakan, apa yang akan Anda katakan Triaz! Saya tidak punya banyak waktu untuk laki-laki tidak penting seperti Anda!" Sombongnya sikap Sandy. Tapi Triaz tetap menghadapinya dengan tenang dan tidak terpancing emosinya.

"Mas Triaz... sudahlah. Aku kan sudah bilang kalau aku..."

"Elsa... istriku yang terkasih, kamu diam dulu. Ini urusan Mas dengan Pak Sandy. Karena yang bersalah dalam hal ini adalah dia. Bukan kamu, sayang."

"Triaz! Elsa itu milik saya, Anda tidak ada hak untuk memanggil dia dengan sebutan sayang. Anda harus ingat itu."

"Pak Sandy Pradana yang saya hormati. Saya tidak mau menjelaskan berulang kali sama Bapak. Secara hukum dan agama, saya ini adalah suaminya Elsa yang sah. Kami adalah sepasang suami istri. Dan Pak Sandy adalah orang terpelajar dan pintar. Lebih dewasa dan lebih berpengalaman dari saya. Tentunya Pak Sandy tahu apa batasan-batasan terhadap sesuatu yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Kalau Pak Sandy punya hati dan perasaan sedikit saja kepada saya, seharusnya Pak Sandy tidak melakukan semua ini. Kita ini sama-sama lelaki Pak. Laki-laki juga punya hati dan perasaan. Selama ini Bapak hanya mementingkan hati dan perasaan Bapak sendiri, tanpa pernah memikirkan bagaimana perasaan saya sebagai suami Elsa dan sebagai orang yang hampir Bapak renggut nyawanya saat itu."

"Apa perlu saya berkata jujur di hadapan Elsa siapa Pak Sandy sebenarnya?"

"Cukup! Anda sudah keterlaluan. Saya bisa menghabisi Anda sekarang juga!"

"Maksudnya apa ini? Sebenarnya ada apa Mas Triaz? Apa yang Mas Triaz ketahui tentang Sandy? Mas Triaz jangan mengarang-ngarang cerita ya, Mas!"

"Kamu tidak usah bertanya kepada mas, sayang. Tanyakan langsung saja sama orangnya."

"Mas Triaz... Mas jangan coba-coba mempengaruhi aku. Mas jangan pernah berusaha untuk menjatuhkan Sandy di hadapan aku. Karena cepat atau lambat, aku dan Sandy tetap akan segera menikah. Dan Mas Triaz tidak ada hak untuk melarang-larang aku lagi untuk menikah dengan laki-laki yang aku cintai, laki-laki yang sudah jelas-jelas ayah kandungnya Namra. Ingat itu Mas!"

Elsa... Elsa... ucapannya membuat Triaz kaget. Tidak sedikitpun Elsa berpihak padanya atau sekedar menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Sandy. Namun Elsa malah memanas-manasi Triaz dengan ucapan yang sungguh tidak pantas itu. Elsa sangat tidak mengerti perasaan Triaz sebagai suaminya. Di depan Triaz, Elsa sampai hati berkata menyakitkan seperti itu.

"Elsa... Sampai hati kamu bicara seperti itu pada suamimu sendiri. Tolong hargai perasaan, mas. Sedikit aja."

*****

Bersambung ke Dari Hati Seorang Lalaki Bagian 6