Welcome

Artikel di blog ini dibuat atas dasar hobi. Jika kalian menemukan manfaat dari blog ini, anggap saja itu kebetulan. Tak perlu mengucapkan terima kasih.

Dari Hati Seorang Lelaki (Bagian 4)

Gemuruh suara kereta api jarak jauh yang melintas langsung di jalur empat stasiun Manggarai membuat Elsa dan Sandy berhenti sesaat untuk berbicara.
Percuma saja mereka memaksakan diri untuk berbicara karena tidak akan terdengar. Selain itu, Namra yang sedang digendong Elsa nampak mulai tidak tenang dan sedikit merengek. Mungkin anak itu kehausan atau juga kepanasan. Elsa segera menenangkannya. Dia bergegas mengambil botol susu yang sudah dipersiapkan sejak awal. Sekejap saja, Namra mulai terdiam kembali dan asyik dengan botol susunya.


"Dia cantik sekali." Sandy menatap Namra dengan senyum manisnya. Anak kandungnya, kini sudah lahir ke dunia dan sudah berusia empat bulan lebih.

"Namanya Namra, aku yang menamainya."

"Sebenarnya aku ingin menggendongnya, tapi dia nampak kehausan. Aku nggak mau mengganggunya. Kasihan. Aku masih tidak percaya kalau malaikat kecil ini adalah anakku. Aku takjub, Sa." Sandy memperhatikan Namra yang sedang asyik minum susu. Kedua mata Namra setengah terpejam. Sandy sangat menikmati moment itu.

"Oh ya, Elsa.. Gimana dengan kamu? Maksudku... semenjak kepergianku, apakah kamu menikah? Kamu masih setia sama aku kan sayang?"

Ditanya seperti itu, Elsa malah tertunduk diam. Kesedihannya kembali menyeruak. Elsa tidak mungkin berbohong di hadapan Sandy kalau sebenarnya dia sudah menikah dengan Triaz. Namun bila dia jujur mengatakannya, Sandy pasti akan merasa kecewa karena Elsa telah mengkhianatinya. Karena sejak awal hubungan dulu, Elsa dan Sandy telah sepakat bahwa di antara mereka akan saling setia satu sama lain. Dan Elsa selalu mengingat akan hal itu. Walaupun Sandy telah pergi meninggalkannya dalam keadaan hamil, namun dia setia menunggu kedatangan Sandy walaupun kini pada kenyataannya Sandy sudah menikah dengan perempuan lain. Pun itu karena terpaksa dan dijodohkan.

"Jawab, Sayang. Kenapa kamu diam?" Sandy mengulang pertanyaannya.

"Mama yang memaksa aku menikah dengan seorang laki-laki yang menjadi pilihannya, Sandy. Maafkan aku. Semua itu dilakukan agar bayi yang sedang aku kandung, bisa memiliki seorang ayah." Dengan berat, akhirnya Elsa mengatakan yang sejujurnya.

"Ya ampun, Sayang.. Kok kamu tega sih? Kita kan sudah saling berjanji satu sama lain untuk saling setia. Kenapa kamu mengingkarinya. Kamu sudah nggak sayang sama aku lagi?"

"Aku tidak ada pilihan lain, San. Mama yang terus mendesakku."

"Kamu kan bisa melawan, beralasan apa lah..."

"Mudah mengatakan begitu. Kamu sendiri gimana? Jangan egois, dong. Kamu sendiri kenapa nggak melawan atau betontak ketika kamu dijodohkan dengan gadis Aceh itu? Apalagi kamu itu laki-laki. Harusnya bisa lebih tegas."

Sandy terdiam sejenak. Ucapan Elsa memang benar. Dia tidak boleh egois. Apa yang dilakukan Elsa juga karena terpaksa dan atas desakkan kedua orangtuanya.

"Siapa laki-laki itu? Gimana asal-usulnya?"

"Namanya mas Triaz Faturahman. Usianya delapan tahun lebih muda dari aku. Dia dari kalangan berada dan salah satu manager di perusahaan swasta. Jujur, dari pertama aku kenal dia, aku tidak pernah mencintainya sampai saat ini. Walaupun dia berparas ganteng dan baik, namun hatiku selalu terpaut padamu. Aku tidak pernah bisa melupakanmu. Dan... selama kami menikah, Mas Triaz tidak pernah menyentuhku apalagi menggauliku di kamar tidur. Karena itu adalah kesepakatan kami berdua sehari sebelum ijab kabul dilakukan. Kamu harus percaya aku, Sandy. Mas Triaz itu hanya sebagai simbol saja. Karena hati dan cintaku hanya untuk kamu."

"Mas Triaz itu pernah menyakitimu, atau membuatmu sedih?"

"Justru aku yang selalu menyakitinya. Aku yang selalu membuat dia menderita dan sakit hati. Aku lakukan semua itu agar Mas Triaz mau menceraikan aku. Dan aku bisa kembali mencari keberadaanmu, Sandy. Tapi, semakin aku menyakiti dan membuatnya tidak nyaman, Mas Triaz semakin mencintaiku. Dia tidak mau melepaskanku. Aku takut, San. Aku takut Mas Triaz tak mau menceraikan aku."

Dari balik tiang peron stasiun Manggarai, Andrian mendengarkan semua pembicaraan antara Elsa dan Sandy. Betapa Andrian merasa sangat marah dan kecewa. Ternyata selama ini, Elsa hanya memanfaatkan Triaz saja. Sampai saat ini, Elsa tidak pernah bersikap baik kepada Triaz. Ini tidak bisa dibiarkan. Andrian harus bertindak dan memperingatkan Elsa agar tidak bersikap semena-mena lagi kepada sahabatnya itu. Karena sudah tidak tahan, akhirnya Andrian muncul dari persembunyiannya dan segera menghampiri Elsa.

"Ohh... aku baru tahu sekarang. Bahwa istri dari sahabatku ini, ternyata seorang perempuan yang kejam dan tidak punya perasaan." Andrian berkacak pinggang di hadapan Elsa dan juga Sandy. Wajahnya nampak marah dan kesal.

"Andri, apa-apaan kamu? Datang-datang kamu langsung ikut campur urusan rumah tanggaku.." Dalam kekagetan, Elsa menimpali ucapan Andrian dengan tak kalah marahnya. Sandy yang tidak mengerti dan tidak tahu tentang Andrian hanya bengong sambil bertanya-tanya dalam hatinya.

"Aku nggak nyangka, Sa. Kamu bisa setega itu pada sahabatku. Padahal Triaz itu lelaki baik. Dia adalah seorang suami yang penuh tanggung jawab dan begitu menyayangi kamu. Dia ikhlas dan sabar memiliki istri macam kamu. Sungguh, kamu tidak tahu terima kasih, Elsa! Kamu sakiti hatinya. Padahal dia sudah banyak berkorban sama kamu. Ketika Namra lahir, dialah yang sibuk mengurus kamu. Ketika kamu harus menanggung aib dan dosa yang tidak pernah dia lakukan, tapi dia mau mengangkatmu dari kesedihan. Dia ulurkan tangannya dengan penuh ketulusan dan keikhlasan. Padahal seharusnya, laki-laki ini yang ada di samping kamu. Laki-laki ini yang seharusnya bertanggung jawab atas semua perbuatannya, bukan Triaz!"

"Cukup, Andri! Kamu sudah menyakiti hati aku. Pergi kamu dari sini!"

"Aku berhak melakukan semua ini karena Triaz sahabatku itu tidak bersalah. Dia hanya menjadi korban keegoisan kamu. Bahkan di saat cinta dan sayangnya tetap utuh dan tidak pernah berubah untuk kamu, tapi kamu malah minta cerai padanya. Kamu keterlaluan, Sa! Kamu..."

"Diam! Asal kamu tahu saja, Dri. Aku nggak pernah meminta dia untuk menikahi aku! Aku juga nggak pernah mengemis-ngemis untuk dikasihani! Aku mau menikahi sahabatmu itu karena Mamaku yang memaksa! Sebaiknya kamu tidak usah ikut campur, ini urusan rumah tangga kami! Dan kamu pikir, aku percaya begitu saja kalau sahabatmu itu menikahi aku berdasarkan rasa cinta dan ketulusan semata? Bulshit! Omong kosong itu, aku tidak akan pernah percaya. Aku tahu, Dri. Mas Triaz itu tidak pernah mencintai aku. Dia hanya kasihan sama aku. Hanya kasihan! Ingat itu!"

Suara Elsa sangat keras dan tidak terkontrol. Sampai-sampai Namra yang akan tertidur jadi menangis dan kaget karena volume suara Elsa yang sangat kencang. Semua itu bisa terjadi karena Elsa begitu emosi dan sangat marah dengan Andrian.

"Suatu saat kamu akan menyesal dengan ucapan kamu itu, Sa. Ingat itu!" Ucap Andrian dengan wajah dan pipi yang bergetar menahan amarah. Setelah itu dia pergi meninggalkan peron lima stasiun Manggarai. Elsa hanya terdiam dan menatap kepergian Andrian. Tatapan mata Andrian sangat tajam dan penuh ancaman. Elsa dapat melihat semua itu.

***

Triaz baru saja selesai tap in di stasiun Kranji. Dia segera melangkah menuju peron jalur dua arah Jakarta Kota. Selama beberapa hari ini dia berangkat kerja dari stasiun Kranji. Dia menginap di rumah Rahman, sepupunya. Semenjak kejadian Namra hilang diculik oleh si Ibu itu, Triaz tak pernah lagi pulang ke rumah Elsa. Kehadirannya sudah tidak diperlukan. Terlepas dari semua itu, sampai saat ini Triaz masih tetap mengharapkan Elsa berubah. Dia selalu memberikan Elsa kesempatan untk memperbaiki semuanya. Namun sampai detik ini, istrinya itu tidak ada respon sama sekali. Telepon tidak pernah, memberikan pesan lewat medsos juga tidak pernah. Padahal Triaz sudah sangat rindu kepada Namra.

Peron jalur dua stasiun Kranji nampak sudah dipenuhi oleh para penumpang yang akan berangkat bekerja ke kantor masing-masing. Sudah dipastikan, di jam-jam sibuk berangkat kantor seperti ini, para penumpang akan menyesaki rangkaian kereta. Kursi peron sudah penuh semua. Akhirnya Triaz berdiri sambil bersandar di tiang peron. Sambil menunggu kereta datang, Triaz membuka ponselnya. Setelah dilihat, ada beberapa pesan masuk dari Andrian. Triaz membukanya satu persatu. Isi pesannya rata-rata hanya menguatkan Triaz saja agar bersabar dalam menghadapi ujian rumah tangganya. Selain itu Andrian mengatakan bahwa dia sudah bertemu secara tak sengaja dengan sosok laki-laki yang bernama Sandy. Sosok yang selama ini telah meninggalkan Elsa dalam keadaan hamil.

Tidak hanya itu, Andrian juga mengirimkan pesan gambar. Ya, gambar seorang laki-laki yang tak lain adalah Sandy. Hmmm... untuk yang pertama kalinya Triaz melihat wajah Sandy walaupun hanya sebatas foto. Yang menjadi pertanyaan Triaz, bagaimana caranya Andrian bisa mendapatkan foto Sandy. Apakah dengan cara bertemu atau diberitahukan oleh Elsa? Tapi rasanya tidak mungkin Elsa memberitahukan Andrian tentang foto Sandy. Hmmm... mungkin sebaiknya Triaz menelepon Andrian langsung agar semuanya jelas. Baiklah. Tanpa membuang waktu, Triaz pun segera menghubungi Andrian. Sampai tak menunggu lama, Triaz langsung tersambung dengan sahabatnya itu.

"Assalamualaikum, Dri. Di mana lo? Udah sampe kantor ya?"

"Udah dong, lo masih di kereta?"

"Gue masih di Kranji, Dri. Nunggu kereta nih. Oh iya, Dri. Lo bisa cerita ke gue gimana caranya lo bisa dapetin fotonya Sandy?"

"Oh tentang cowok brengsek itu..."

Akhirnya, Andrian pun menceritakan kejadiannya ketika mengintai dan memantau Elsa dan Bu Rani yang akan pergi ke jalur Tanah Abang secara tidak sengaja di stasiun Manggarai. Semua pembicaraan Elsa dan Bu Rani dan sampai akhirnya datanglah sosok laki-laki yang dihampiri oleh Elsa yang tak lain tak bukan adalah Sandy. Dan, di saat itulah Andrian membidikkan kamera di ponselnya untuk memoteret sosok Sandy. Bukan hanya itu, Andrian juga mendengarkan pembicaraan antara Sandy dan juga Elsa. Semua Andrian ceritakan tanpa ada yang terlewatkan. Triaz mendengarkan penjelasan sahabatnya itu dengan baik.

"Astagfirullahaladzim... jadi mereka udah saling bertemu lagi, Dri? Sandy udah kembali?"

"Gue sarankan sih, elo pertahain pernikahan lo dengan Elsa. Jangan sampai Sandy kembali lagi ke pelukan Elsa. Karena gue lihat, Sandy itu sosok lelaki bajingan. Hanya memanfaatkan kaum perempuan aja. Katanya sih dia dijodohkan dengan gadis asal Aceh bernama Shiha oleh orangtuanya. Tapi gue nggak percaya. Hati gue mengatakan, kalau Sandy udah ngeduain Elsa."

"Su'udzon lo keterlaluan, Dri.."

"Terserah elo deh.. Gue berani buktikan nanti. Shiha, istrinya itu gue jamin adalah korban selanjutnya setelah Elsa. Pokoknya saran gue, jangan sampai Elsa kembali lagi sama Sandy. Kalo lo sayang dan masih cinta sama Elsa istri lo, ya pertahanin."

"Tentu saja gue nggak akan pernah ngelepasin Elsa. Gue sayang banget sama dia, Dri. Gimana pun caranya, gue akan memperjuangkan pernikahan gue."

"Bagus deh kalo gitu. Itu baru sahabat gue."

"Ok, Dri, makasih atas infonya. Keretanya udah mau dateng nih. Udah dulu ya. Bye."

Memang benar, dari kejauhan sana sudah terlihat KRL Commuterline tujuan Jakarta Kota. Para penumpang yang sudah menunggu di peron stasiun Kranji segera bersiap-siap. Semua rapi berjejer dari ujung timur sampai ujung barat. Sampai kereta berhenti sempurna di peron jalur dua stasiun Kranji, penumpang nampak berhamburan masuk. Ada yang rebutan, dorong-dorongan, ada juga yang santai-santai saja. Situasi di dalam kereta tidak terlalu penuh. Mungkin para penumpang Bekasi sudah tersapu bersih oleh pemberangkatan-pemberangkatan kereta sebelumnya.

Triaz sengaja memposisikan diri di dekat persambungan agar dia bisa bersandar. Dan alhamdulillah lagi, dinding sandaran di persambungan masih ada yang kosong. Ketika Triaz mau membaca buku, pandangannya langsung tersita dan terfokus kepada sepasang kekasih atau mungkin suami istri yang sedang duduk di kursi prioritas, tepat di depan dia berdiri. Yang membuat Triaz agak terperanjat, sepertinya sosok laki-lakinya Triaz sudah mengenalnya dan memang baru dia kenal dari foto yang baru saja dikirimkan oleh Andrian. What? Sandy dong.

Ya, memang benar. Sepasang kekasih atau bahkan suami istri itu, yang laki-lakinya memang Sandy. Laki-laki yang begitu dicintai Elsa.

"Sandy? Benarkah dia?" Tanya Triaz di dalam hatinya.

Untuk lebih meyakinkannya, Triaz membuka ponselnya kembali dan melihat kiriman foto yang dikirimkan oleh Andrian. Triaz berusaha meneliti dan membandingkannya antara yang ada di foto dan di depan matanya. Dan hasilnya memang sama. Itu memang Sandy. Itu memang laki-laki tak bertanggung jawab yang selama ini telah meninggalkan Elsa begitu saja.

"Ohhh... jadi dia yang namanya Sandy. Oke. Aku tahu apa yang harus kulakukan." Bisik Triaz di dalam hatinya.

"Sayang... Gaun pengantin aku udah jadi lho. Nanti malam setelah pulang kantor kita lihat yuk."

"Cepet banget Mbak Windy ngerjainnya."

"Mbak Windy gitu lho. Seorang designer baju pernikahan yang sudah terpercaya."

"Oke. Nanti malem kita ke Mbak Windy. Aku udah nggak sabar melihat kamu pake baju itu. Pasti akan kelihatan cantik banget."

"Huuu... gombal."

Triaz tersentak kaget di tempatnya berdiri. Bukankah Sandy itu sudah menikah dengan perempuan asal Aceh yang bernama Shiha? Begitulah yang diceritakan oleh Andrian. Tidak mungkin Andrian berbohong. Tidak mungkin sahabatnya itu mengarang-ngarang cerita. Lantas, perempuan muda cantik yang ada di sebelah Sandy itu siapa? Dan dari hasil pendengarannya, sepertinya Sandy akan melangsungkan pernikahan dengan perempuan yang ada di sebelahnya itu. Berarti Sandy....

***

Sejak tadi, Triaz berusaha menahan perasaannya untuk bisa berkomunikasi dengan laki-laki yang bernama Sandy itu. Triaz sudah tidak sabar ingin segera memberikan peringatan kepada Sandy sekaligus membuatnya perhitungan. Tapi Triaz berusaha untuk menahannya. Karena saat ini dia sedang berada di dalam rangkaian kereta. Akan lebih baik semua itu ditahan hingga Triaz menemukan saat yang tepat untuk berbicara dengan Sandy. Apalagi di samping Sandy ada seorang perempuan yang sudah pasti itu adalah calon istri Sandy yang berikutnya. Hmmm... Tidak menyangka bahwa Sandy memang benar-benar hanya ingin mempermainkan perasaan perempuan aja. Prasangka Andrian sepertinya tidak salah.

Setelah diperhatikan lebih teliti oleh Triaz, sosok Sandy yang begitu dicintai oleh istrinya itu ternyata tampangnya biasa saja. Tidak ada yang spesial ataupun istimewa. Rambutnya aja agak gondrong, badannya cungkring dan gayanya terlihat urakan. Tapi kenapa Elsa begitu mencintainya? Kenapa istrinya itu tak mau kehilangan Sandy? Padahal sudah jelas-jelas lelaki itu telah meninggalkannya dalam kondisi hamil. Tiba-tiba saja terbetik niat di pikiran Triaz untuk memfoto Sandy dan perempuan itu.

Ya, perlahan-lahan Triaz mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dia berpura-pura untuk memainkan ponselnya. Padahal sebenarnya dia sedang mencari saat yang tepat untuk mengabadikan Sandy dan perempuan itu dalam sebuah adegan yang mesra dan sangat intim. Apa yang dilakukan oleh Triaz tentu saja tanpa sepengetahuan Sandy. Kalau sampai ketahuan, Sandy pasti akan sangat marah. Semua ini Triaz lakukan untuk dijadikannya bukti. Triaz ingin menunjukkan kepada Elsa bahwa selama ini Sandy sudah membohonginya. Bahwa Sandy punya lebih dari satu wanita. Tentunya dengan bukti yang kuat itu akan meyakinkan Elsa bahwa Sandy tidak sebaik yang dia kira.

Akhirnya, Triaz berhasil mengabadikan beberapa adegan mesra antara Sandy dan perempuan yang belum diketahui namanya itu. Triaz sangat senang sekali. Bukti itu secepatnya akan ditunjukkan kepada Elsa saat dia menemuinya nanti. Tapi Triaz masih belum puas. Otaknya kembali berpikir untuk merekam pembicaraan antara Sandy dan perempuan itu. Ya, Triaz harus melakukannya untuk memperkuat bukti yang akan ditunjukkannya nanti kepada Elsa.

"Setelah kita menikah nanti, kita akan berbulan madu. Kami mau pergi bulan madu kemana sayang?"

"Kemanapun kamu mengajak aku berbulan madu, aku pasti suka. Asalkan bersamamu, aku pasti bahagia."

"Wenny, aku sudah tidak sabar menunggu saat-saat membahagiakan itu. Aku tidak menyangka kalau akhirnya kita akan menikah."

"Aku juga.."

Secuil dialog dari sekian banyak percakapan antara Sandy dan perempuan yang ternyata bernama Wenny itu, berhasil Triaz rekam di ponselnya. Mudah-mudahan dengan bukti-bukti yang sudah dibuatnya itu akan menyadarkan hati Elsa bahwa Sandy bukanlah lelaki baik-baik. Sandy tidak sesetia yang dibayangkankannya. Dan Triaz berharap Elsa bisa menerima kenyataan dan segera melupakan Sandy.

Kereta yang dinaiki oleh Triaz baru saja berangkat dari stasiun Manggarai. Kini kereta menuju stasiun Cikini. Triaz melihat, perempuan yang bernama Wenny itu turun di stasiun Manggarai tadi. Namun Sandy masih di dalam kereta. Hmmm... kesempatan yang bagus bagi Triaz untuk mendekati Sandy dan memberikannya peringatan. Kebetulan situasi di dalam kereta tidak sepenuh tadi. Suasana sedikit lebih lengang. Dan perlahan, Triaz duduk di samping Sandy yang sedang asyik mengutak-atik ponselnya. Triaz menatapnya dengan berbagai macam perasaan. Rasa kesal, geregetan, muak dan tentu saja marah. Sisi antagonis Triaz mulai keluar dengan sendirinya setelah melihat sosok Sandy di sebelahnya.

Triaz terus memperhatikan wajah Sandy. Dan yang diperhatikan sepertinya mulai tersadar dan menyamenyadarinya.

"Ada apa ya, Mas? Kok ngeliatin saya seperti itu?" Sandy mulai bereaksi.

"Tidak ada apa-apa. Maaf kalau saya sudah mengganggu kenyamanan anda, Pak Sandy." Triaz benar-benar sudah tidak sabar. Nama Sandy akhirnya dia ucapkan juga. Tentu saja Sandy kaget. Dari mana Triaz bisa mengetahui namanya?

"Anda... tahu nama saya darimana?"

"Perkenalkan... Nama saya Triaz Faturahman, suami dari Elsa Febrina, seorang perempuan yang sudah anda tinggalkan, seorang perempuan yang sudah anda permainkan perasaannya."

Karena perasaan amarah yang tidak tertahankan, Triaz berbicara ke inti permasalahannya. Wajah Sandy nampak kaget. Kedua matanya terbelalak. Bagaimana bisa Triaz mengatakan hal itu.

"Ohhh... Jadi anda yang bernama Triaz itu. Laki-laki yang sudah merebut Elsa dari tangan saya. Anda berani ya.."

"Jaga ucapan anda, Bapak Sandy! Saya tidak pernah merebut Elsa dari tangan Anda. Justru Anda adalah laki-laki pengecut dan tidak bertanggung jawab karena lari dari kenyataan. Dengar baik-baik Bapak Sandy yang terhormat, jangan sekali-sekali anda berani mendekati istri saya lagi. Ingat, Elsa sekarang istri saya. MILIK SAYA!!"

"Saat ini Elsa memang istri Anda. Tapi Anda harus tahu bahwa dia tidak pernah mencintai Anda. Jangan mimpi bisa mendapatkan cinta Elsa. Dan saya bersumpah, secepatnya saya akan memiliki Elsa kembali."

"Tentu saja itu tidak akan saya biarkan. Pak Sandy boleh memiliki Elsa kembali, tapi hadapi saya dulu sampai tetes darah yang terakhir. Anda pikir saya takut? Salah besar kalau anda berpikiran seperti itu." Semakin Sandy bersikap arogan dan kasar, semakin Triaz pun menunjukkan emosinya. Apapun akan Triaz hadapi untuk mempertahankan Elsa. Takkan pernah merasa gentar sedikitpun di hatinya. Sandy menatap tajam wajah Triaz. Triaz pun tidak mau kalah, dia lebih tajam lagi tatapannya.

"Dengar, Mas Triaz! Anda masih anak kemarin sore! Anda belum tahu apa-apa tentang cinta!"

"Tapi anda seorang pengecut, Pak Sandy. Anda itu hanya mempermainkan perasaan Elsa. Habis manis sepah di buang. Lari dari tanggung jawab. Itu artinya Anda bukan cowok sejati. Anda itu banci dan cemen. Ingat, cemennn!" Dengan puas jempol Triaz ditukikkan ke bawah sebagai tanda bahwa Sandy memang pengecut dan juga pecundang.

Wajah Sandy nampak semakin marah, dia tidak terima direndahkan seperti itu oleh Triaz. Pipi Sandy terlihat bergoyang-goyang menahan amarah. Namun dengan penuh santai, Triaz menantang Sandy dengan beraninya. Apapun akan Triaz lakukan untuk mempertahankan Elsa. Walaupun itu nyawa taruhannya.

Tadinya, Sandy hendak menampar wajah Triaz dengan amarahnya. Namun gerakan tangan Sandy sudah terbaca oleh Triaz. Saat tangan Sandy akan dilayangkan ke wajah Triaz, dengan gerakan cepat pula, Triaz menepisnya.

"Saya tidak akan pernah membiarkan anda menyakiti saya dan juga Elsa, Bapak Sandy yang terhormat. Heuhhh... kasihan sekali anda." Sambil menahan kencang tangan Sandy, kedua mata Triaz melotot dengan sangat sadisnya. Sisi antagonisnya semakin terlihat. Dan setelah itu dia menghempaskan tangan Sandy ke bawah dengan sedikit memutarnya.

"Bapak Sandy yang terhormat, anda jangan berani macam-macam dengan saya. Jangan Anda pikir saya lebih muda, lantas Anda bisa mengalahkan saya. Tentu saja tidak, Pak Sandy!"

"Awww... awww... sa... sakit." Sandy nampak meringis kesakitan saat Triaz sedikit memutar tangannya.

"Hanya satu pesan saya untuk Anda. Jauhi istri saya dan pergi dari kehidupan kami. Jangan pernah Anda berniat kembali untuk merebut istri saya. Sesuatu yang sudah dimiliki orang lain, Anda tidak ada hak untuk merampasnya!"

"Tapi Namra anak saya, bukan anak kamu!"

"Lalu, ketika Namra masih dalam kandungan dan sampai dia lahir ke dunia, Anda kemana saja saat itu, Pak Sandy? Tidak sekalipun Anda melihatnya! Tidak sedetikpun anda mengasihani Elsa! Karena saya tahu, anda itu sibuk mengurus pernikahan anda dengan perempuan yang bernama Shiha. Dan dengan bejatnya, saat ini Anda merencanakan pernikahan kembali dengan perempuan yang bernama Wenny. Dengan sikap egois dan culas Anda seperti itu, apakah Anda masih pantas mengharapkan Namra? Ayah macam apa anda ini? Saya memang masih muda, tapi sikap saya tidak sepengecut Anda! Dengar Pak Sandy yang terhormat, saat ini Namra adalah anak saya! Bukan anak Anda!"

Perdebatan sengit antara Triaz dan Sandy masih terus berlangsung di dalam KRL Commuterline tujuan Jakarta Kota. Banyak pasang mata yang melihat dan terfokus dengan kejadian itu. Suasana nampak tegang dan dramatis sekali. Masing-masing mempunyai argumen sendiri-sendiri. Punya alibi menurut kebenaran masing-masing. Hingga di titik klimaksnya, Sandy tiba-tiba saja memegang kepala Triaz dengan eratnya. Dan dengan gerakan sangat cepat, Sandy membenturkan kepala Triaz ke dinding dan kaca kereta hingga berkali-kali. Sampai-sampai, Triaz mengeluarkan banyak darah dari kening dan sekitar kepalanya.

Para penumpang yang melihat kejadian itu nampak histeris dan banyak yang menjerit-jerit. Karena sangat kesakitan, Triaz memegangi kepalanya yang sudah berlumuran darah. Triaz meronta dan mengaduh. Untuk bicarapun rasanya sangat sulit. Suaranya tersekat di kerongkongan. Hingga tak beberapa lama kemudian, tubuh Triaz ambruk ke lantai kereta dengan simbah darah. Para penumpang semakin panik dan menjerit-jerit. Sampai di detik berikutnya, datanglah dua orang petugas security dan mulai menolong Triaz yang sudah terkulai pasrah di lantai kereta.

"Cepat cari bantuan! Mas ini mengeluarkan banyak darah!" Perintah petugas PKD kepada temannya. Sekejap saja, petugas PKD itu langsung pergi mencari bantuan.

"Bapak ini pelakunya. Dia membentur-benturkan Mas yang itu ke kaca dan dinding. Tangkap saja dia, Pak!"

"Hukum seberat-beratnya!"

"Sangat tidak pantas. Memalukan!"

"Sudah tua tapi nggak ada otaknya!"

"Saya bersedia menjadi saksi. Sudah jelas-jelas si Bapak ini yang telah melakukan tindak kekerasan!"

"Kejam banget sih jadi orang. Sadis lu!"

Umpatan-umpatan dari semua penumpang itu ditujukan kepada Sandy yang masih duduk di tempatnya. Sandy nampak terlihat shock dan kaget. Apa yang sudah dia lakukan.. Sandy menutup mulutnya pertanda ketakutan dan campur gugup. Dia melihat banyak darah yang mengalir dari pelipis dan kening Triaz. Sepertinya Sandy tidak sadar melakukan hal itu. Dia saja nampak terlihat kaget.

"Dan Bapak, Anda harus ikut kami ke kantor. Untuk sementara Anda kami tahan karena percobaan penganiayaan sekaligus pembunuhan terhadap laki-laki ini." Ucap petugas security itu dengan gaya bicara seperti seorang polisi saja.

"Iyaaaa. Tangkap saja si Bapak itu!."

Dari arah persambungan muncul beberapa orang petugas security dalam jumlah yang lumayan banyak. Beberapa dari mereka langsung menggotong tubuh Triaz yang sudah dalam keadaan pingsan. Bersyukurlah beberapa saat lagi kereta akan memasuki stasiun Jayakarta. Tentunya, Triaz akan dibawa ke rumah sakit terdekat. Beberapa orang petugas security nampak bersiap-siap di depan pintu. Beberapa saat lagi kereta akan berhenti di stasiun Jayakarta. Sementara itu tetesan darah terus mengalir dari balik kepala Triaz. Beberapa penumpang nampak bergidik dan tidak tega melihat kondisi Triaz seperti itu. Semoga saja Triaz masih bisa diselamatkan. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yang fatal terhadap diri Triaz. Semoga ya. Aamiin.

*****