Welcome

Artikel di blog ini dibuat atas dasar hobi. Jika kalian menemukan manfaat dari blog ini, anggap saja itu kebetulan. Tak perlu mengucapkan terima kasih.

Dari Hati Seorang Lelaki (Bagian 3)

Bu Rani menangis penuh kesedihan di sebelah Triaz. Di kursi peron stasiun Manggarai, Bu Rani baru saja mendengarkan cerita yang panjang lebar dan rinci dari Triaz tentang hubungannya dengan Elsa.
Sebenarnya Triaz tidak ada niat untuk menceritakan semua kepada Ibu mertuanya itu. Namun karena terus didesak dan dipaksa, akhirnya Triaz menceritakan yang sebenarnya. Mulai dari pertama bertemu dengan Elsa, saat ijab kabul akan dilakukan, hingga kepada kejadian hilangnya Namra begitu saja tanpa jelas. Tidak ada yang ditutup-tutupi, tidak ada yang disembunyikan lagi. Ada perasaan menyesal dirasakan oleh Triaz saat menceritakan semua itu kepada Bu Rani. Sebenarnya dia tidak mau menceritakannya. Dia tidak mau membuat hati Elsa terluka.

Tapi apalah daya, desakkan Bu Rani membuat Triaz tidak bisa berkutik. Apa yang sudah terjadi dengan Elsa, kini Ibu mertuanya sudah tahu. Dan sepertinya Bu Rani nampak terlihat kecewa, sedih dan juga marah. Berarti selama ini antara Triaz dan Elsa tidak pernah harmonis atau rukun di dalam pernikahan mereka. Triaz dan Elsa selalu bersikap harmonis dan romantis ketika di hadapan Bu Rani saja, selepas itu mereka bersikap seperti musuh. Dan masalahnya ada pada Elsa yang sampai saat ini belum bisa menerima kehadiran Triaz sebagai suaminya.

"Kenapa kamu baru cerita sekarang, Triaz? Kenapa? Kenapa kamu harus bohong sama mama?" Di sela tangisnya, Bu Rani menatap sembab wajah Triaz.

"Triaz sangat sayang dan cinta sama Elsa, ma, Triaz tidak ingin menyakiti perasaannya, itu saja kok."

"Maafkan Elsa, maafkan dia. Mama malu, mama benar-benar malu punya anak seperti dia."

"Gapapa, ma. Triaz yakin, suatu saat nanti Elsa pasti berubah. Elsa pasti mau menerima kehadiran Triaz."

"Kok dia bisa setega itu sama kamu.. Kalian itu sudah setahun pernikahan. Tapi Elsa..." Bu Rani tak kuasa menahan kesedihannya, dia menangis kecewa di samping Triaz.

"InsyaAllah Triaz akan sabar menghadapi Elsa, ma. Karena Elsa adalah istri Triaz. Dan Namra adalah anak kami. Walaupun Namra bukan anak kandung Triaz, tapi Triaz menyayangi Namra. Maka dari itu ketika Namra hilang diculik oleh Ibu-ibu itu, Triaz sedih, Triaz bingung. Tapi syukurlah kalau sebenarnya saat ini Namra baik-baik saja ada di rumah."

"Biar nanti Mama yang bicara sama Elsa. Kamu tenang aja ya."

"Sebaiknya jangan, ma. Jangan. Kasihan Elsa. Triaz tidak mau melihat dia sedih."

"Tapi dia sudah menyakiti kamu, sudah menipu kamu dan sudah merekayasa penculikan terhadap Namra. Mama harus memberikan Elsa pelajaran."

"Mama... dengarkan Triaz, ma. Saat ini Elsa adalah istri Triaz, biar itu yang menjadi urusan Triaz sebagai kepala rumah tangga. Biar kami yang menyelesaikannya. Mama hanya cukup mendoakan kami saja agar hubungan kami tetap baik dan harmonis."

"Tapi Triaz..."

"Meraih kebahagiaan itu memang tidak mudah, ma. Kita harus memperjuangkan untuk mendapatkannya walaupun pahit dan getir. Anggap saja ini ladang pahala untuk Triaz. Anggap saja ini ujian terbaik yang telah diberikan oleh Allah untuk Triaz. Karena Triaz yakin, suatu saat nanti Allah akan mendengar doa-doa Triaz."

"Ya Allah... Triaz..."

"Mama jangan takut atau khawatir, meskipun Elsa belum bisa menerima kehadiran Triaz sampai saat ini, tapi Triaz tidak marah. Triaz tidak dendam. Karena di penghujung nanti, semuanya akan berbuah sangat manis. Hanya saja, Triaz memang harus lebih bersabar lagi. Percayalah sama Triaz, ma. Triaz tidak akan meninggalkan Elsa. Kami akan saling berpisah satu sama lain hanya karena maut, bukan karena yang lain."

Bu Rani semakin tak kuasa menahan rasa harunya, apa yang baru saja dikatakan oleh Triaz membuatnya sangat takjub dan terharu. Kalimat-kalimat yang diucapkan Triaz begitu indah dan tidak ada intonasi kecewa atau marah sama sekali. Triaz sudah begitu baiknya. Hatinya demikian bersih. Padahal Elsa sudah berbuat semena-mena terhadapnya.

"Seharusnya Elsa bahagia dan beruntung punya suami seperti Triaz. Harusnya dia bangga. Bukannya ditelantarkan seperti ini."

"Jalan hidup seseorang tidak ada yang tahu, ma, semua pasti berbeda dan penuh dengan intrik. Begitupun dengan yang Triaz alami."

"Atas nama Elsa, Mama minta maaf, Triaz. Mama minta maaf atas kesalahan dan perbuatan Elsa sama Triaz."

"Elsa itu istri Triaz, ma. Seburuk apapun dia, Triaz pasti memaafkannya."

"Kamu itu sungguh baik, Triaz. Terima kasih mau memaafkan Elsa. Sekarang ayo kita pulang. Kasian Namra."

"Tapi Elsa..."

"Biar itu yang menjadi urusan Mama. Keputusan dia yang ingin bercerai dari kamu, Mama juga tidak setuju. Kamu dan Elsa tidak boleh sampai bercerai."

"Triaz juga tidak mau, ma. Triaz akan setia mendampingi Elsa apapun yang akan terjadi. Itu janji Triaz dulu, ma."

"Baiklah. Memang itu yang Mama harapkan."

Perlahan, Bu Rani dan Triaz beranjak dari kursi peron stasiun Bekasi. Mereka melangkah menuju pintu tap out. Bersamaan dengan itu, dari arah stasiun Kranji, datang KRL Commuterline dari Jakarta Kota dan masuk di jalur dua stasiun Bekasi.

***

Sedari tadi, Andrian melihat sosok Elsa yang sedang menggendong Namra anaknya di kursi prioritas sana. Sebenarnya Andrian ingin menghampiri istri sahabatnya itu. Namun niat itu diurungkan oleh Andrian. Untuk menuju ke sana, situasinya masih belum memungkinkan, saat itu KRL dalam keadaan padat penumpang karena bertepatan dengan jam berangkat kerja, para penumpang masih menjejali koridor kereta tujuan stasiun Jakarta Kota. Mungkin selepas Manggarai nanti, para penumpang mulai berkurang kapsitasnya. Andrian masih agak susah untuk melipir ke kursi prioritas. Dia harus permisi-permisi ke setiap penumpang yang berdiri di kanan dan kiri koridor. Hal itulah yang membuat Andrian kurang nyaman. Ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Andrian kepada Elsa.


Mengenai hubungannya dengan Triaz yang belakangan ini semakin bermasalah, Andrian hanya ingin berusaha untuk menyatukan mereka kembali, walaupun mungkin hasilnya tidak seperti dalam bayangannya. Terlihat Elsa pergi berdua bersama Bu Rani, mamanya. Entahlah mereka mau kemana. Berpakaian sangat rapi dan membawa Namra ikut serta. Karena Andrian melihat, tidak ada sosok Triaz di sana. Seharusnya sahabatnya itu ada di antara Elsa dan Bu Rani. Berarti itu menandakan bahwa hubungan Elsa dan Triaz sedang banyak masalah. Bahkan seperti pengakuan Triaz, bahwa Elsa sudah bertekad ingin bercerai dari Triaz.

Andrian harus lebih bersabar lagi. Kereta yang sedang dia naiki sudah berangkat dari stasiun Jatinegara dan beberapa saat lagi akan tiba di stasiun Manggarai. Biasanya di stasiun Manggarai penumpang banyak yang turun untuk transit ke arah Depok-Bogor atau Sudirman-Tanah Abang-Duri.

"Gue harus segera ngomong sama Elsa. Dia tidak bisa semena-mena lagi sama Triaz." Andrian bicara sendiri di tempatnya berdiri.

Ketika kereta tiba di stasiun Manggarai, perkiraan Andrian memang benar. Banyak sekali yang turun. Termasuk Elsa dan juga Bu Rani yang ikut turun juga. Andrian yang memperhatikan itu, langsung mengikuti arah Elsa dan Bu Rani berjalan. Jangan sampai Andrian kehilangan jejak. Dia harus berhasil mengikuti Elsa kemanapun.

Sementara itu, Elsa dan Bu Rani nampak mulai menyeberang menuju ke peron jalur lima. Sepertinya Elsa dan Bu Rani hendak transit naik KRL Commuterline tujuan Sudirman-Tanah Abang-Duri. Dari raut wajahnya, Elsa nampak kusut dan tidak ada tanda-tanda kebahagiaan. Wajah Bu Rani pun demikian adanya. Bu Rani dan Elsa nampak duduk di kursi peron stasiun Manggarai jalur lima. Dari kejauhan Andrian memperhatikan mereka berdua. Dengan berbekal masker yang dipakai oleh Andrian, sudah pasti Bu Rani dan juga Elsa tidak akan mengenali Andrian. Dari balik tiang besi peron stasiun, Andrian memperhatikan dan bahkan ikut mendengarkan apa saja yang dibicarakan oleh Bu Rani dan Elsa.

"Mama tidak menyangka, kamu bisa setega itu sama suami kamu, Elsa. Padahal selama ini Triaz itu sudah baik dan banyak menolong kamu. Tapi Mama nggak habis pikir, mengapa kamu malah menyakiti dia dengan cara yang keterlaluan seperti ini. Mama malu, Sa!"

"Sudahlah, ma. Biarkan ini menjadi masalah aku dan Mas Triaz. Mama tidak usah ikut campur." Timpal Elsa dengan nada yang sangat ketus.

"Tapi sikap kamu sudah keterlaluan Elsa. Triaz itu salah apa sama kamu? Sampai-sampai kamu merekayasa atas penculikan Namra. Istri macam apa kamu?"

"Mama nggak usah bawel deh. Aku nikah sama Mas Triaz kan atas permintaan Mama. Padahal Mama juga tahu, kalau aku nggak pernah cinta sama dia. Tapi Mama malah memaksa. Jadi... bukan salah aku kan, ma?

"Tapi Triaz sangat sayang sama kamu. Dia sungguh-sungguh."

"Nggak mungkin, ma. Mas Triaz itu mau nikah sama aku, itu hanya karena kasihan, nggak lebih."

"Kamu salah besar, Sa! Triaz tidak pernah punya perasaan seperti itu sama kamu. Dia tulus mencintai kamu dan juga Namra. Dia mau menikahi kamu karena memang dia sangat mencintai kamu. Buka mata hati kamu, Elsa. Triaz itu lelaki baik, belum tentu di luar sana kamu bisa mendapatkan lagi laki-laki seperti Triaz."

"Maaf, ma. Aku tidak akan pernah terpengaruh sedikitpun oleh ucapan Mama. Aku akan tetap minta cerai sama Mas Triaz. Karena aku tidak bisa mempertahankan hubunganku lagi dengan Mas Triaz. Di hatiku tidak ada cinta untuk Mas Triaz, ma. Jadi untuk apa aku pertahankan.."

"Kamu masih mengharapkan Sandy, laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu?"

"Mama sudah tahu sendiri jawabannya. Untuk apa Mama tanyakan lagi?"

"Dengarkan mama, Elsa. Sandy itu bukan laki-laki baik. Kalau memang dia benar-benar mencintaimu, kenapa dia meninggalkanmu ketika kamu hamil dulu? Harusnya dia yang mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Di mana dia ketika kamu ditinggalkannya? Kamu berusaha mencarinya, kamu terus menghubungi dia. Tapi sekalipun, dia tidak pernah ada kabarnya. Padahal dia sendiri belum tentu mencari-cari kamu. Apa itu yang dinamakan laki-laki baik dan bertanggung jawab?"

"Aku yakin, Sandy pasti punya alasan yang kuat mengapa dulu dia pergi dan menghilang, ma."

"Mama heran, kamu begitu membela dan melindungi laki-laki itu. Padahal, dia sudah mencampakkan kamu dan juga Namra, anak kandungnya. Sedangkan Triaz, yang sudah jelas-jelas sangat peduli dan melindungi kamu, kamu malah menyakiti dan memperlakukannya dengan tidak adil. Triaz itu lelaki yang sangat ikhlas dan berhati penyabar."

"Kamu jangan lupa, Elsa. Siapa yang pontang-panting mencari buah delima muda dan mangga muda ketika kamu ngidam dulu? Siapa yang membopong kamu saat pingsan dari stasiun sampai jalan raya hingga dia terjatuh karena begitu melindungi kamu? Siapa yang setia menemani kamu periksa kehamilan ke dokter di rumah sakit? Siapa pula yang menunggui kamu di rumah sakit selama seminggu saat kamu hampir mengalami pendarahan waktu itu? Bukan Sandy, Sa. Tapi Triaz kan? Triaz juga yang menemani kamu selama proses persalinan berlangsung. Triaz juga yang kamu gigit kuat lengannya ketika kamu hendak melahirkan Namra karena kesakitan yang teramat sangat. Dan Triaz jugalah yang merawat kamu saat pemulihan setelah persalinan. Dia larang mama dan Bi Marni pembantu kita untuk melakukan semua itu.

"Kamu melupakan semua kebaikan-kebaikan Triaz selama ini Elsa? Kamu tidak mau menghargai semua pengorbanan dia walaupun hanya sedikit? Seharusnya, semua itu Sandy yang melakukannya. Tapi mana? Sampai detik ini saja, Sandy tidak pernah muncul di hadapan kamu. Dia benar-benar telah lari dari tanggung jawab. Laki-laki seperti itu yang masih kamu harapkan? laki-laki seperti itu yang tetap kamu tunggu?"

"Tapi Sandy itu ayahnya Namra, ma. Namra adalah darah dagingnya."

"Memang benar, Sandy memang ayah kandungnya Namra. Tapi... mau sampai kapan kamu menunggu Sandy? Mau sampai dunia ini berakhir, Sa?"

"Mama hanya bisa menyudutkan dan menyalahkan aku, tapi tidak pernah mau mengerti perasaan aku."

"Kamu selalu ingin dimengerti dan dipahami. Kamu egois, Elsa! Sementara dengan Triaz, apa pernah kamu mengerti perasaannya walaupun hanya sekali? Padahal dia sudah begitu banyak berkorban untuk kamu. Sekarang kamu bayangkan sendiri, Elsa. Bagaimana kalau kamu ada di posisi Triaz? Pikir!"

Terlihat, Elsa tidak menimpali ucapan Bu Rani. Elsa hanya terdiam. Seolah dia sedang meresapi apa yang dikatakan oleh mamanya itu. Ucapan Bu Rani memang ada benarnya. Mungkin Elsa terlalu egois dan selalu ingin dimengerti tanpa pernah mau mengerti perasaan orang lain termasuk Triaz, suaminya. Bersamaan dengan itu, dari arah selatan di jalur lima stasiun Manggarai, datang KRL Commuterline tujuan Tanah Abang-Duri. Elsa, Bu Rani dan penumpang yang lainnya bersiap-siap untuk naik.

***

Elsa mengurungkan niatnya untuk naik ke dalam rangkaian kereta tujuan Duri bersama mamanya, padahal kereta sedang berhenti di depan matanya. Tiba-tiba saja dari ujung peron sebelah utara sana, Elsa seperti melihat sosok lelaki yang selama ini dicarinya. Yang selama ini telah meninggalkannya begitu saja. Ya, walaupun sudah lebih dari setahun berpisah, namun Elsa tetap mengenali sosok laki-laki itu. Sandy Pradana, laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu saat ini sedang berdiri di ujung peron. Elsa menajamkan pandangannya untuk meyakinkan kalau itu memang Sandy.

"Elsa, cepat naik. Kok malah bengong?" Ajak Bu Rani yang sudah berada di dalam rangkaian kereta.

Namun Elsa masih diam terpaku di depan pintu kereta. Dia masih menatap Sandy dari kejauhan. Elsa jadi bingung apa yang harus dilakukannya. Apakah mungkin dia menghampiri laki-laki yang dia duga Sandy itu, atau masuk ke dalam rangkaian kereta bersama Mamanya.

"Elsa, kamu lihat siapa sih?" Tanya Bu Rani penasaran karena sedari tadi tatapan putrinya itu tertuju kepada satu titik.

"Aku melihat Sandy di sana. Itu." Jawab Elsa sambil menunjuk dan tetap menatap Sandy dari kejauhan.

"Apa? Sandy?"

"Aku ke sana dulu ya, ma. Mama duluan aja berangkatnya. Nanti aku nyusul. Aku mau ketemu Sandy. Dia harus tahu kalau Namra anaknya sudah lahir dan sangat cantik."

Tanpa mempedulikan dan melihat Mamanya lagi, Elsa langsung melangkah menuju ujung peron arah utara sambil tetap menggendong Namra. Sebenarnya Elsa ingin berlari saja. Tapi itu tidak mungkin, kasihan Namra. Sementara dengan Bu Rani, tadinya dia mau ikut turun lagi, tapi karena tiba-tiba saja pintu keretanya langsung tertutup, akhirnya Bu Rani tetap berada di dalam dan tidak bisa keluar.

Andrian yang menyaksikan semua kejadian itu sedari tadi, terus mengikuti gerak-gerik Elsa. Andrian melihat Elsa melangkah tergesa menuju ujung peron arah utara. Andrian menguntit Elsa dari belakang dengan jarak yang disesuaikan. Sementara itu, KRL Commuterline tujuan Duri yang dinaikkan Bu Rani semakin jauh meninggalkan stasiun Manggarai.

Langkah Elsa terhenti seketika ketika sudah berada di dekat sosok laki-laki yang dia kira adalah Sandy. Hati Elsa penuh debaran. Setelah begitu lama ditinggalkan, kini Sandy hadir di dekatnya.

"Sandy... Assalamualaikum." Akhirnya suara itu keluar juga dari mulut Elsa dengan gemetaran di sekitar mulutnya. Merasa ada yang memanggil dan menyapa, laki-laki yang ada di dekat Elsa langsung menoleh dan...

"Astagfirullahaladzim... Elsa?" Ya, memang benar, itu adalah Sandy. Kekasihnya Elsa yang telah menghamili Elsa dan telah pergi meninggalkannya begitu saja. Sandy nampak kaget dengan kehadiran Elsa dan bayi yang sedang digendongnya.

"Sandy... ini aku sayang. Elsa."

Sandy melihat Elsa sedang menggendong seorang bayi. Sudah pasti bayi yang sedang digendong Elsa adalah anak kandungnya, darah dagingnya. Sandy nampak kaget dan menutup mulutnya.

Di kursi peron stasiun Manggarai, Sandy dan Elsa akhirnya berbicara dan mengobrol panjang lebar. Terlebih Sandy. Dia menjelaskan kepada Elsa mengapa dia pergi meninggalkan Elsa begitu saja dalam keadaan hamil. Kesempatan seperti inilah yang ditunggu-tunggu oleh Elsa.

"Aku terpaksa meninggalkanmu, Sa. Maafkan aku. Sebenarnya aku berat untuk melakukan semuanya. Aku masih ingin bersamamu. Aku masih sangat mencintaimu. Tapi, bukan berarti tanpa alasan yang kuat aku meninggalkanmu begitu saja. Ada sesuatu yang lebih menyakitkan dari itu. Ternyata, sejak kecil aku sudah dijodohkan oleh Abi sama Umi dengan gadis Aceh kenalan Abi tanpa sepengetahuanku. Mereka merencanakan itu sejak lama tanpa konfirmasi terlebih dahulu sama aku."

"Aku katakan kepada Umi dan juga Abi bahwa aku sudah punya calon sendiri, yaitu kamu. Tapi Umi dan Abi tidak mau tau, mereka tidak memberikan aku kesempatan untuk memperkenalkan kamu dalam keluargaku. Abi dan Umi sudah sreg dan jatuh hati kepada Shiha Hanifa yang kini sudah menjadi istriku, Sa. Aku menikahi Shiha karena kemauan orangtuaku, bukan atas dasar cinta atau saling menyayangi. Aku tidak mau dianggap sebagai anak yang durhaka dan tidak menuruti perintah orang tua. Entahlah, jaman sudah begitu canggih dan banyak berubah. Tapi Abi dan Umi masih menganggap bahwa perjodohan itu akan membawa keberuntungan dan kebahagiaan selamanya."

"Setiap malam aku harus menyembunyikan rasa sakit dan sedihku di hadapan keluarga dan juga Shiha. Tidak pernah ada yang tahu tangis di hatiku. Tidak pernah ada yang mau peduli dengan perasaan ini. Aku harus terlihat bahagia di depan Shiha, orangtuanya dan juga orangtuaku. Aku dan Shiha harus selalu terlihat harmonis dan serasi. Padahal batinku tersiksa. Pikiranku dan hatiku selalu hinggap di hati kamu. Aku tak bisa menemuimu. Aku tidak bisa kembali padamu Elsa. Maafkan aku. Padahal dulu, ketika aku belum menikah dengan Shiha, aku sudah begitu banyak membuat rencana untuk kita. Tapi..."

"Kamu yakin kamu sedang tidak membohongiku, Sandy?" Tanya Elsa penuh keraguan dan ketidakyakinan dalam hatinya akan cerita dan penuturan Sandy.

"Terserah kalau kamu menganggap aku berbohong atau sedang mencari-cari alasan. Aku punya banyak bukti untuk menunjukkannya sama kamu." Usai mengatakan itu, Sandy langsung membuka tas yang dibawanya dan mengeluarkan dompetnya. Kemudian Sandy menunjukkan selembar foto pernikahannya dengan Shiha. Dan kemudian menunjukkannya kepada Elsa.

"Ini buktinya, lihatlah. Ini adalah Shiha, gadis berhijab pilihan Abi dan juga Umi. Kalau kamu masih menganggap semua ini adalah sandiwara dan kebohongan, itu salah besar, Sa."

Elsa melihat foto pernikahan Sandy dengan perempuan asal Aceh yang bernama Shiha itu. Sungguh, hati Elsa langsung bergemuruh. Jiwanya bergejolak. Dia tidak rela Sandy diambil perempuan lain. Dia cemburu Sandy bersanding dengan perempuan lain di pelaminan. Dia tidak terima. Elsa menatap lekat foto itu.