Welcome

Artikel di blog ini dibuat atas dasar hobi. Jika kalian menemukan manfaat dari blog ini, anggap saja itu kebetulan. Tak perlu mengucapkan terima kasih.

Dari Hati Seorang Lelaki

dari hati seorang lelaki

Alhamdulillah.. Akhirnya Triaz bisa bernafas dengan tenang. Namra anaknya akhirnya bisa tertidur pulas di pangkuannya setelah dari tadi rewel dan menangis terus selama dalam perjalanan KRL Commuterline jurusan Serpong - Tanah Abang.
Kini Namra yang cantik dan lucu sedang terlelap nyenyak. Di kursi peron stasiun Tanah Abang arah Manggarai, Triaz menatap Namra dengan bahagia. Tanpa terasa, sekarang Namra sudah menginjak empat bulan. Padahal seperti baru kemarin Triaz menunggui Elsa istrinya di rumah sakit saat melakukan persalinan. Dari pertama kontraksi sampai Namra lahir ke dunia ini, Triaz dengan setia menemani Elsa di rumah sakit.

Tadinya Elsa memaksa ingin melakukan persalinan secara caesar karena sudah tidak tahan menahan rasa sakit dan kontraksi di perutnya. Namun dokter menyarankan, sebaiknya Elsa melakukan proses persalinan secara normal, karena tidak ada masalah atau kendala yang dihadapi. Saat itu letak bayi sudah normal dengan posisi kepala sudah berada di bawah. Tidak melintang ataupun sungsang. Akhirnya, mau tidak mau Elsa melakukan persalinan normal.
Ahhh...
Triaz masih mengingat semua itu. Di ranjang kamar persalinan, Elsa meraung-raung dan berteriak-teriak. Kencang sekali. Sampai-sampai ketika rasa sakit dan kontraksi di perut Elsa sudah memasuki puncaknya, tangan sebelah kiri Triaz digigit sekencang-kencangnya.
Huhhhh....
Rasanya memang sakit sekali. Namun Triaz menerima semua itu demi istri dan calon anaknya tercinta. Rasa sesakit apapun akan Triaz terima dan Triaz tahan, demi rasa sayangnya kepada Elsa.

Hari mulai gelap, sesaat lagi azan magrib akan berkumandang. Namun sedari tadi KRL Commuterline tujuan Bogor selalu penuh. Triaz tidak berani memaksakan diri untuk masuk ke dalam rangkaian kereta dengan kondisi sedang membawa Namra yang masih bayi. Apalagi ini adalah jam sibuk orang pulang kantor. Sudah pasti kereta selalu dalam keadaan penuh. Terlebih kalau kereta sudah sampai di stasiun Sudirman. Tumpukkan penumpang sudah menunggu di sana. Triaz sangat hafal dengan keadaan itu, karena rutinitas Triaz juga pulang-pergi ke kantornya menggunakan KRL Commuterline.


krl commuterline

Seharusnya Triaz dan Namra sudah bisa pulang sedari tadi dari stasiun Serpong. Namun, karena setelah beberapa saat melintas di stasiun Kebayoran ada yang bunuh diri dengan menabrakkan diri di rel kereta, akhirnya perjalanan Serpong-Tanah Abang dan sebaliknya, mengalami keterlambatan. Evakuasi korban tidak bisa dilakukan dengan mudah dan cepat. Karena salah satu anggota badan jasad orang tersebut nyangkut di roda kereta.
Uhhh...
Triaz sangat ngilu bila mengingat kejadian tadi. Makanya, Namra rewel dan nangis terus karena terlalu lama di dalam KRL Commuterline.

Triaz baru saja mengunjungi Ibunya di daerah Tangerang Selatan. Sekedar silaturahmi dan ingin melihat Namra sebagai cucunya. Namun sayang, Elsa tidak bisa ikut menemani. Karena saat ini situasi hubungan antara Triaz dan Elsa sedang kurang baik. Elsa keukeuh tidak mau ikut ke rumah Ibunya Triaz karena sampai saat ini Elsa masih belum bisa menerima kehadiran Ibu mertuanya itu karena memang dia tidak mengharapkannya. Karena dia tidak suka dengan Ibunya Triaz. Karena sebenarnya, Elsa menikah dengan Triaz karena keadaan, tepatnya karena terpaksa. Karena saat itu Elsa dalam keadaan hamil muda saat menikah dengan Triaz.

Ya. Saat Triaz menikah dengan Elsa, Elsa sudah dalam keadaan hamil muda. Dan anak yang sedang dikandung oleh Elsa saat itu adalah bukan darah daging dari Triaz sendiri, melainkan dari pacarnya Elsa yang pergi meninggalkan Elsa begitu saja setelah mengetahui kalau Elsa itu sedang hamil. Namanya Sandy. Laki-laki tidak bertanggung jawab itu, memutuskan hubungan cintanya dengan Elsa setelah Elsa lebih memilih mempertahankan kehamilannya daripada menggugurkannya dan kembali ke pelukan Sandy. Sungguh ironi dan sangat tidak dewasa. Berani berbuat, tapi tidak berani bertanggung jawab. Habis manis sepah dibuang.

Namun dengan segala ketulusan dan kerendahan hatinya, Triaz mau menerima Elsa apa adanya. Di hadapan Elsa dan orangtuanya, Triaz berjanji kalau dia akan menikahi Elsa, menyayangi dan mencintai Elsa sepenuh hatinya. Keputusan Triaz untuk menikahi Elsa sempat ditentang oleh Ibunya. Karena ibunya Triaz mengharapkan Triaz bisa menikah dengan perempuan yang masih perawan atau tidak sedang dalam keadaan hamil seperti Elsa. Karena di luar sana, masih banyak perempuan yang lebih baik dari Elsa. Namun Triaz tetap dengan pendiriannya. Dia mau menerima Elsa dalam keadaan apapun dan dalam kondisi apapun. Karena, ketika pertama melihat Elsa, Triaz langsung jatuh hati dan tidak bisa membiarkan Elsa larut dalam kesedihan.

Bukan semata-mata karena rasa kasihan atau iba, Triaz menyayangi Elsa memang tulus dari hatinya. Dia senang bisa mengenal Elsa. Dia bahagia bisa menjadi suaminya Elsa. Dan sampai detik ini, Namra sudah dianggap putri kandungnya sendiri. Rasa sayang dan cinta Triaz kepada Namra, sama besarnya kepada Elsa. Namun pada awalnya Elsa terlihat bahagia dan bisa menerima kehadiran Triaz dalam kehidupannya sebagai suaminya. Namun semakin lama, Elsa mulai tidak merasa nyaman dengan laki-laki asing seperti Triaz. Selama tiga tahun menjalin asmara, selalu Sandy yang menemaninya selama ini. Saat itu, Elsa memang terpaksa menerima Triaz menjadi suaminya karena tidak ada pilihan lain. Sandy malah memutuskannya setelah tahu kalau dia hamil.

Sampai saat ini, perasaan cinta itu belum tumbuh di hari Elsa untuk Triaz. Cinta dan hatinya sudah terlanjur diberikan untuk Sandy seorang, bukan untuk Triaz atau laki-laki lain. Karena saat itu Elsa sedang hamil dan pada masanya nanti anaknya itu sangat membutuhkan figur seorang ayah, akhirnya Elsa menerima pinangan Triaz. Kebetulan sekali dan nasib Elsa sangat mujur. Laki-laki lain belum tentu mau menerima seorang perempuan yang sedang dalam keadaan hamil seperti itu untuk menjadi istrinya. Apalagi anak yang dikandung perempuan itu bukan darah dagingnya.

Triaz melihat ke arlojinya, waduhhh... sudah jam enam kurang sepuluh menit. Sebentar lagi waktu salat magrib akan tiba. Bagaimana ini... Dia dan Namra belum masuk ke dalam rangkaian kereta.

"Elsa... aku akan terus menunggu sampai kamu bisa mencintai aku." Lirih Triaz dengan suara pelan.

Setelah itu dia melihat ke wajah Namra yang masih tertidur pulas.

"Dan kamu, Namra sayang. Papa akan selalu sayang sama kamu. Meskipun kamu bukan darah daging Papa, tapi Papa sangat menyayangi kamu, Nak. I love you Namra." Dengan lembut dan mesra, Triaz mengecek pelan kening Namra.
Hingga tanpa disadarinya kalau dari arah selatan KRL Commuterline tujuan Bogor telah datang.


***

Kereta tujuan Bogor yang masuk di jalur tiga stasiun Tanah Abang sebenarnya tidak terlalu kosong-kosong amat. Banyak penumpang di dalamnya. Namun Triaz tetap memaksakan diri untuk masuk karena dia ingin mengejar salat Magrib terlebih dahulu di stasiun Manggarai. Walaupun sebenarnya dia masih kebingungan, bagaimana dengan Namra nanti saat Triaz akan mengambil air wudhu dan melakukan salat magrib? Akan dititipkan kepada siapa? Triaz pun masih belum tahu. Tapi ya sudahlah, semoga saja Allah memudahkan jalan untuk hambanya bagi yang akan beribadah. Menurut Triaz itu urusan nanti saja. Yang penting dia keburu melakukan salat Magrib terlebih dahulu di stasiun Manggarai.

Semua kursi yang ada di dalam kereta sudah penuh semua. Sambil menggendong Namra, akhirnya dia berdiri juga. Untunglah Namra masih terlelap di pangkuannya. Tidurnya begitu nyenyak. Di pundak sebelah kirinya, terpasang tas bayi berwarna merah muda. Sesaat, Triaz celingak-celinguk ke area sekitar. Ya, tempat duduk memang sudah penuh semua.

"Mas, Mas... Bangun dong. Itu ada Bapak-bapak bawa bayi. Kasihan Mas." Tiba-tiba saja terdengar suara seorang laki-laki di samping Triaz yang menyeru kepada seorang anak muda yang sibuk memainkan gadgetnya di tempat duduknya.

"Peraturannya kan sudah jelas, Ibu yang membawa bayi dan balita. Lha si Masnya ini Ibu-ibu bukan sih?" Anak muda itu menjawab dengan ketusnya.

"Astagfirullahaladzim... ya pengertiannya lah, Mas. Saling toleransi aja." Lelaki itu kaget mendengar jawaban anak muda tersebut.

"Sudah, Mas nggak apa-apa. Saya masih kuat kok." Ucap Triaz menetralisirkan keadaan.

"Lagian di jam-jam sibuk pulang kantor seperti ini kok bawa bayi. Nggak tahu waktu banget. Modus biar dikasih tempat duduk tuh." Anak muda itu menyahut lagi

"Astagfirullah.. anak zaman sekarang..." Keluh penumpang lainnya yang sedari tadi memperhatikan

Namun berkat bantuan seorang petugas di dalam rangkaian kereta, akhirnya Triaz mendapatkan tempat duduk di kursi prioritas yang ada di dekat persambungan. Dengan begitu, Triaz dan Namra bisa merasa nyaman. Triaz menatap kembali ke wajah Namra, bayi mungil nan cantik itu belum terusik apalagi terbangun. Padahal suasana di dalam rangkaian kereta sangat berisik. Terlebih saat kereta memasuki stasiun Sudirman, stasiun yang sarat dengan kepadatan penumpangnya. Di saat Triaz sedang menatap asyik putrinya itu, handphone yang dia simpan di saku bajunya berbunyi. Dengan gerakan tenang Triaz mengambil handphone-nya agar Namra tidak terbangun.

Setelah handphone ada di tangannya, Triaz segera membukanya. Terbacalah nama "Elsa Istriku" di layar handphone-nya. Tanpa menunggu waktu lama, Triaz segera mengangkat telepon dari istrinya itu.

"Assalamualaikum, halo sayang?"

"Mas, kamu masih di mana sih? Kok belum sampai rumah? Udah mau malem juga!" Tanpa menjawab salam, jawaban dan nada bicara Elsa terdengar tidak enak di telinga Triaz.

"Mas baru saja berangkat dari stasiun Sudirman. Tadi di stasiun Kebayoran ada orang yang bunuh diri. Jadi, kereta yang ke stasiun Tanah Abang mengalami keterlambatan, sayang. Mas juga nggak pernah menyangka kalau akan seperti ini kejadiannya." Triaz berusaha menjawab dengan tenang dan bersuara pelan

"Aku kan tadi sudah bilang, kalau kamu mau ke tempat Ibu, nggak usah membawa Namra segala! Riskan banget Mas. Kalau dia nangis, kalau dia rewel gimana? Kenapa sih bukan Ibu saja yang ke rumah kita? Jadi repot tahu nggak! Kasihan Namra, Mas. Mas Triaz mikir nggak sih?" 

Di seberang telepon Elsa mulai marah-marah. Namun Triaz menghadapinya dengan hati tenang. Dia tidak mau tepancing emosi dan ikut marah-marah juga. Apalagi Triaz sangat menyadari kalau dia sedang berada di dalam rangkaian kereta, banyak orang lain di sekelilingnya.

"Elsa sayang, kenapa sih harus seperti ini terus? Kamu tenang aja. Namra aman bersama Mas. Dia baik-baik saja. Kamu tidak usah khawatir."

"Pokoknya aku nggak mau terjadi apa-apa sama anakku. Kalau sampai Namra kenapa-kenapa kamu yang harus tanggung jawab!" Imbuh Elsa di seberang telepon sana dengan nada sangat ketus dan masih marah-marah.

"Iya, iya. Mas ngerti."

"Besok-besok kalau Mas mau bawa Namra ke rumah ibu lagi, aku tidak izinkan!"

"Lho memangnya kenapa sayang? Ibu Mas kan neneknya Namra juga." Kilah Triaz tetap dengan nada bicara yang masih tenang.

"Helllowww, Mas Triaz lupa ya? Namra itu bukan darah daging Mas Triaz. Sampai kapanpun Mas Triaz tidak akan pernah bisa menjadi ayah kandungnya Namra. Ingat itu Mas, Sandylah ayahnya. Bukan Mas Triaz."

Suara Elsa di telepon semakin keras saja. Triaz sampai kaget dibuatnya. Namun Triaz berusaha untuk tidak menujukkan wajah marah dan emosi di dalam rangkaian kereta. Sampai saat ini, Triaz tetap menerima apapun yang dikatakan dan diucapkan oleh Elsa.

"Kenapa sih harus membahas itu lagi sayang? Mas juga sangat paham dan sadar kalau Namra itu....." Ucapan Triaz langsung terpotong. Elsa menukasnya dengan sangat cepat.

"Ya udah kalo Mas sudah paham, jangan sok-sok ingin menjadi ayah kandungnya Namra!"

"Mas sudah menganggap Namra seperti anak kandung Mas sendiri, sayang. Mas sayang dan cinta sama Elsa. Mas......" Lagi-lagi ucapan Triaz langsung dipotong.

"Cukup, nggak usah terlalu didramatisir! Ingat ya, Mas Triaz! Aku menikah dengan Mas karena saat itu tidak ada pilihan lain. Dan Mas tidak usah berharap aku bisa mencintai Mas Triaz! Hmmm... Tidak akan Mas. Dulu aku mau menikah dengan Mas Triaz karena Mama dan Papaku yang mendesak. Jadi kalau bukan karena mereka, aku tidak sudi menikah dengan kamu Mas."

"Astagfirullahaladzim. Sebenarnya apa kesalahan Mas, sampai-sampai kamu selalu bersikap seperti ini sama Mas. Mas mencintaimu Elsa. Mas sayang kamu."

"Halah, nggak usah bohong deh, Mas. Aku tahu, Mas menikahi aku karena kasihan semata karena waktu itu aku sedang hamil, iya kan? Bullshit banget kalau Mas Triaz melakukan semua ini karena cinta. Dimana-mana, tidak mungkin ada laki-laki yang dengan mudahnya dan dengan polosnya mau menikahi perempuan yang sudah hamil oleh orang lain. Aku bilang ya Mas, kalaupun ada laki-laki yang seperti itu, bagiku... itu adalah laki-laki bego dan tolol."

Triaz tersentak kaget dengan ucapan Elsa yang semakin keterlaluan dan tidak bisa ditolerir. Ucapan istrinya itu sudah sangat melukai perasaan dan hatinya. Secara tidak langsung, Elsa sudah mengatakan bahwa dirinya seperti itu.

"Kenapa Mas Triaz diam saja. Bener kan ucapanku. Bahwa selama ini Mas Triaz menikahi aku hanya karena kasihan dan bukan karena cinta. Karena kalau Mas Triaz melakukannya karena cinta, itu artinya Mas Triaz itu laki-laki be..."

Klik.

Hubungan telepon ditutup sepihak begitu saja oleh Triaz. Ucapan Elsa sudah sangat keterlaluan. Tidak sepantasnya dia berkata seperti itu. Tidak seharusnya ucapan itu dikeluarkan. Jujur, jauh di dalam palung, Triaz sangat terluka dan sakit hati.

"Ya Allah... maafkanlah istriku. Ampunilah dia ya Allah. Berikanlah dia pintu hidayahmu." Triaz melirih dalam hati.


***


Saat mau memasuki stasiun Manggarai, alhamdulillah keretanya tidak tertahan seperti biasanya. Triaz merasa sangat lega dan bahagia. Karena kalau sampai tertahan lama, khawatir Namra akan terbangun karena kepanasan. Mungkin memang sudah rejekinya Namra. Karena biasanya yang Triaz tahu, setiap mau memasuki stasiun Manggarai kereta pasti tertahan hingga lebih dari setengah jam lamanya, menunggu antrian perjalanan kereta yang superpadat di ibu kota. Namun Triaz mulai merasakan kebingungan, bagaimana dia bisa turun di stasiun Manggarai bila melihat situasi kereta yang penuh sesak seperti itu. Dia takut terdorong-dorong oleh penumpang yang tidak sabaran. Karena Triaz sangat menjaga keselamatan dan keamanan Namra.

"Masnya mau turun di Manggarai ya?" Tiba-tiba seorang Bapak-bapak bertanya ketika melihat Triaz bangkit dari duduknya.


"Iya, Pak. Saya mau transit ke jalur Bekasi soalnya." Jawab Triaz apa adanya.

"Oh baiklah. Ayo kasih jalan, kasih jalan dulu Masnya nih. Bawa bayi soalnya. Jangan dorong-dorongan ya. Kasian bayinya." Si Bapak itu menyeru ke area sekitar. Berharap para penumpang pengertian kepada Triaz.

Dan hasilnya alhamdulillah, beberapa penumpang memberikan jalan kepada Triaz yang kerepotan sambil membawa Namra.

Setelah salat magrib di stasiun Manggarai, Triaz duduk menunggu di peron jalur empat stasiun Manggarai. Menurut announcer, KRL Commuterline tujuan Bekasi baru berangkat dari stasiun Gondangdia. Sementara para penumpang sudah banyak yang berdiri di belakang garis aman peron. Penuh sekali. Rel di depan matapun sampai tak terlihat. Maklumlah, jam sibuk pulang kantor seperti ini, situasi penumpang di stasiun Manggarai sangat padat. Baik yang jalur Bogor maupun yang jalur Bekasi sama penuhnya. Triaz sempat kebingungan lagi bagaimana dia bisa masuk ke dalam rangkaian kereta dalam keadaan penuh dan desak-desakkan seperti itu. Apalagi saat ini Namra sudah bangun dari tidurnya.

"Sebaiknya Mas naik yang pemberangkatan dari Manggarai saja. Kalau yang dari Jakarta Kota takutnya nggak bisa masuk, apalagi membawa bayi seperti ini." Tiba-tiba seorang Ibu--daritadi memperhatikan kegelisahannya--menyarankan ke Triaz yang berdiri di sampingnya.

"Seharusnya sih jam segini sudah masuk di stasiun Manggarai. Mungkin telat. Kasihan anaknya." Tambah si ibu itu.

"Iya, Bu. Terima kasih." Triaz mencoba menjawab dengan ramah.

"Memang istrinya kemana, Mas? Kok nggak ikut?" Tanya si Ibu kemudian.

"Istri saya tadi ada keperluan, jadi tidak bisa ikut."

"Kalau dia butuh asi gimana?"

"Sudah saya persiapkan kok, Bu."

Saat sedang asyik mengobrol seperti itu, handphone Triaz kembali berbunyi kencang sekali hingga sampai terdengar ke telinga si Ibu. Panggilan telepon datang lagi. Dari siapakah? Mungkinkah dari Elsa lagi. Namun sepertinya Triaz tidak mengangkat handphone-nya, karena handphone-nya dia simpan di dalam tas. Dan untuk mengambilnya sangat susah. Namra harus diletakkan terlebih dahulu atau ada yang menggendong untuk sementara waktu. Sementara Triaz tidak mau merepotkan orang lain.

"Kok nggak diangkat handphone-nya? Sini, biar saya bantu gendong anaknya. Nggak apa-apa kok. Sini Mas." Ucap si Ibu tadi

"Jangan, Bu, nanti merepotkan."

"Tidak apa-apa Mas, takutnya itu telepon penting lho. Sini anaknya."

"Aduh.. si Ibu."

"Udah nggak apa-apa."

Akhirnya Triaz menyerahkan Namra sesaat ke si Ibu itu. Namra yang dalam keadaan sedang terjaga mulai bergerak-gerak dan memainkan kedua matanya.

"E... anak cantik, sini. Aduh lucunya."

"Terima kasih ya Bu. Terima kasih."

"Iya Mas, sama-sama."

Karena Namra sudah berada di pangkuan si Ibu, Triaz pun mulai terfokus kepada handphone-nya yang terus berbunyi. Dia segera mengambilnya di dalam tas. Kemudian melihat siapa yang menghubunginya. Hmmm... Elsa lagi. Benar kan dugaannya. Pasti istrinya itu mau menanyakan banyak hal lagi. Triaz tercenung sesaat. Dia pikir-pikir dulu sebelum mengangkat teleponnya. Dia tidak mau tepancing emosinya. Karena Triaz sangat tahu, saat ini Elsa sedang kesal padanya. Namun pada akhirnya, Triaz mengangkat teleponnya juga. 

"Assalamualaikum, sayang."

"Mas, lama banget sih diangkatnya? Sudah sampai mana ini?" Lagi-lagi ucapan salam Triaz tidak digubris sama sekali. Elsa langsung menyemprot Triaz dengan omelan.

"Mas ribet mau ngangkat handphone sayang, ada di dalam tas soalnya. Kan harus gendong Namra juga. Kamu ngertiin Mas juga dong sayang." Triaz selalu mencoba menjawab tenang dan bersuara pelan.

"Biasanya juga disimpan di kantong baju atau celana handphonenya. Alesan banget sih."

"Kamu bisa nggak sih nggak marah-marah terus. Mas kan tadi sudah menjelaskan. Di Kebayoran itu ada orang yang....."

"Ahhh... nggak mau tahu. Bodo amat. Pokoknya Namra harus pulang dalam keadaan selamat. Awas saja ya kalau setelah pulang nanti dia jadi sakit."

"Sayang... Insha Allah Namra baik-baik sa....." Saat bicara seperti itu, Triaz menoleh ke sosok Ibu yang ada di sebelahnya yang tadi yang sedang menggendong Namra. Tetapi betapa terkejutnya Triaz setelah melihat, sosok si Ibu tadi sudah tidak ada di sebelah Triaz dengan membawa kabur Namra. Dan Triaz tidak mengetahui hal itu karena setelah menyerahkan Namra ke si Ibu itu, posisi Triaz yang sedang menelpon membelakangi si Ibu.

"Namra... Namra... astagfirullahaladzim Namra... Namra." Triaz mendadak panik.

"Ada apa dengan Namra, Mas? Apa yang terjadi dengan Namra?" Di seberang telepon Elsa berteriak-teriak. Karena dari nada bicara, Triaz nampak kaget dan ketakutan.

"Ibu itu... kemana si ibu itu. Astagfirullahaladzim... dia membawa kabur Namra. Tidak. Tidak!" Triaz mulai kalang kabut.

Triaz langsung mematikan hubungan teleponnya bersama Elsa. Dia tidak peduli. Tatapannya langsung disebarkan ke area sekitar stasiun Manggarai yang penuh dengan orang-orang. Mencari-cari sosok si Ibu yang sedang menggendong Namra.
Hahhh...
Triaz juga salah. Mengapa dia memberikan Namra begitu saja kepada si Ibu itu? Kalau sudah begini, dia juga yang kini merasa sangat menyesal. Namra hilang dibawa kabur.



Di Stasiun Manggarai Triaz celingak-celinguk melihat keadaan sekitar. Mencari sosok si Ibu tadi yang membawa serta Namra. Perasaan takut, gelisah dan cemas bercampur aduk. Dia kebingungan sendiri di stasiun Manggarai. Para penumpang yang berada di peron jalur empat sangat ramai dan penuh. Nyaris tidak ada celah untuk bisa melihat rel atau peron di jalur seberang. Kalau sampai Namra benar-benar hilang diculik si ibu itu, urusannya bisa panjang dan runyam. Masalahnya saat ini Elsa dan Triaz hubungannya sedang kurang harmonis. Ditambah lagi Elsa yang masih marah-marah dan temperamental karena Triaz pulang telat.
Hahhh...
Triaz hanya bisa mendengus panjang. Tatapannya dia layangkan ke sekeliling stasiun. Dari ujung peron paling utara kiri dan kanan sampai kepada peron paling selatan kanan dan kiri juga. Namun hasilnya tetap sama. Triaz belum menemukan si ibu itu.

Triaz kelimpungan sendiri, tidak tahu harus bertanya dan minta tolong sama siapa. Pikirannya mulai tidak tenang. Perasaannya semakin deg-degan. Kalau sampai Elsa tahu Namra hilang diculik, habislah riwayat Triaz. Elsa pasti akan semakin marah dan bahkan mungkin tidak akan pernah bisa memaafkan Triaz. Salah Triaz sendiri sebenarnya. Mengapa dia percaya begitu saja dengan si Ibu tadi, padahal Triaz tidak mengenal si Ibu itu. Sungguh, penyesalan selalu datang di akhir. Kalau sudah seperti ini dia yang kelabakan sendiri. Dan di saat sedang kebingungan seperti itulah handphone-nya kembali berbunyi. Yahhhh... Elsa lagi yang telepon. Tamat sudah riwayatnya.

"Assalamualaikum, halo sayang."

"Nggak usah pake sayang-sayangan lagi! Aku muak dengarnya Mas. Sekarang katakan, apa yang terjadi sama Namra. Mana Namra?"

"Elsa... tenang sayang. Namra..." Aduh, Triaz bingung harus jujur atau tidak. Seperti makan buah simalakama.

"Jawab Mas, giman dengan Namra? Jangan diam saja dong." Dari seberang telepon, nada bicara Elsa nampak marah sekali. Triaz semakin pusing dan kebingungan.

"Namra... Namra hilang Elsa. Dia diculik."

"APAAAA?"


***

Triaz menangis tersedu di depan sebelah musala stasiun Manggarai. Dua petugas stasiun menemaninya sekaligus menenangkannya. Sampai saat ini Namra belum diketemukan. Petugas stasiun Manggarai berkoordinasi dengan petugas bagian ruangan CCTV stasiun Manggarai. Dengan bantuan CCTV, semua aktivitas para penumpang di area stasiun akan terlihat. Saat ini pihak ruangan kontrol CCTV stasiun Manggarai sedang melacak dan memeriksanya. Sudah pasti, di antara ratusan bahkan mungkin ribuan orang yang ada di stasiun Manggarai ada sosok si Ibu tadi yang dipercaya Triaz untuk menggendong sementara Namra karena Triaz harus mengangkat telepon dari Elsa.

Setelah mendapat telepon dari Elsa dan marah-marah, Triaz langsung melapor ke petugas keamanan stasiun yang sedang bertugas di area peron. Setelah diinterogasi petugas, Triaz dibawa ke ruangan Kepala Stasiun. Setelah itu, Triaz menceritakan kejadian yang sebenarnya di sana. Setelah dijelaskan kronologinya, akhirnya Kepala Stasiun Manggarai menghubungi bagian control room CCTV. Dan saat ini, Triaz sedang menunggu dengan cemas keputusan dan jawaban dari pihak control room CCTV.

"Namra... di mana kamu Nak? Maafkan Papa, Nak." Triaz meringgis dalam hati sambil menudukkan wajahnya. Dia tak kuasa menahan rasa sedihnya. Saat ini belum ada kabar dari bagian control room

"Jadikan ini pelajaran untuk ke depannya Mas. Jangan mudah percaya kepada orang lain yang baru saja kita kenal. Apalagi sampai menitipkan bayi seperti itu." Petugas keamanan menenangkan sekaligus memberikan saran kepada Triaz. 

"Iya Mas, terima kasih. Saya memang salah. Saya terlalu gegabah." Triaz menjawab dengan wajah masih tertunduk.

"Ya kita berdoa saja, semoga anaknya Mas Triaz segera ditemukan dan Ibu-ibu itu dapat segera tertangkap dan dihukum seberat-beratnya atas kejahatan yang telah dia lakukan." Ucap petugas lainnya dengan penuh rasa prihatin.

Tidak ada lagi yang berbicara. Triaz masih dihinggapi perasaan sedih dan juga khawatir. Menurut rencana, saat ini Elsa sedang dalam perjalanan untuk menyusul ke stasiun Manggarai. Ahhh... Triaz tak bisa membayangkan, betapa marahnya Elsa. Istrinya itu sedang dalam keadaan temperamental dan emosi atas kejadian ini. Wajah Elsa yang jutek dan emosi itu sudah menghinggapi pikirannya. Berbagai macam kata-kata kasar dan sikap arogan, pasti akan keluar dari mulut istrinya itu. Akan habislah Triaz dicaci-maki dan dikata-katai oleh Elsa. Dan tentunya hubungan pernikahan mereka akan semakin bertambah parah tidak harmonisnya.

"Triaz... Triaz... ya Allah. Gue turut prihatin ya." Dari arah depan sana tiba-tiba saja muncul Andrian sahabatnya yang beberapa saat lalu Triaz hubungi. Dan kebetulan Andri--nama panggilannya--sedang ada dalam perjalanan kereta menuju Manggarai juga. Andri langsung menghampiri Triaz kemudian merangkulnya sebagai tanda bela sungkawa.

"Namra, Ndri... Namra... Elsa pasti marah besar sama gue." Triaz menangis di dalam rangkulan sahabatnya itu.

"Tenang, tenang. Ntar gue bantuin ngomong sama Elsa."

"Gue yang salah, gue terlalu percaya sama orang lain."

"Sudah, sudah. Jangan sedih terus, Bro."


*****